Mati Suri di Tengah Kota: Menilik Kondisi Stasiun Mampang yang Kian Terlupakan
LajuBerita — Di balik deru mesin dan hiruk-pikuk pusat Jakarta, sebuah saksi bisu perjalanan waktu berdiri dalam kesunyian yang memprihatinkan. Stasiun Mampang, yang dahulu menjadi nadi penting dalam lintasan kereta api Tanah Abang-Manggarai, kini terjebak dalam kondisi terbengkalai, seolah terhapus dari peta perhatian pembangunan kota.
Berlokasi strategis di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, stasiun ini sebenarnya berada di antara dua titik sibuk, yakni Stasiun Manggarai dan Stasiun Sudirman. Namun, nasibnya berbanding terbalik dengan tetangganya yang megah. Berdasarkan pantauan langsung di lapangan, akses menuju stasiun ini hanya bisa ditembus melalui sisi utara di Jalan Latuharhary. Tanpa adanya pagar pembatas atau pengamanan yang memadai, siapa pun bisa dengan mudah keluar-masuk ke dalam kawasan yang kini lebih menyerupai gudang sampah ketimbang fasilitas publik.
Menantang Dominasi Kuba, Bamsoet Bidik Pasar Cerutu Dunia Senilai USD 58 Miliar
Potret Kehancuran Warisan Sejarah
Memasuki area stasiun, aroma tidak sedap dari tumpukan berbagai jenis sampah menyambut siapa saja yang datang. Bangunan beton kecil yang dahulu berfungsi sebagai loket tiket kini berdiri mengenaskan. Tanpa atap dan jendela, dindingnya yang kusam kini menjadi kanvas liar bagi coretan vandalisme. Jejak sejarah transportasi yang seharusnya dijaga, kini justru merana di bawah tumpukan puing.
Di sisi lain, hanya tersisa sebuah kerangka besi menyerupai halte yang masih dengan setia mengusung papan bertuliskan “Mampang”. Ironisnya, tidak ada jalur aman bagi pejalan kaki untuk menyeberang atau sekadar melintasi kawasan ini dengan layak. Infrastruktur peninggalan era kolonial Belanda ini seakan sedang menunggu waktu untuk benar-benar roboh dan rata dengan tanah.
Aroma Manis Ekspor: Indonesia Guyur Pasar China dengan 459 Ton Durian Asal Sulawesi Tengah
Ironi di Balik Rel yang Masih Aktif
Hal yang paling kontras terlihat ketika rangkaian KRL Commuter Line melintas dengan kecepatan tinggi di jalur depan stasiun. Jalur rel ini tetap menjadi tulang punggung mobilitas warga Jakarta, bahkan tak jarang kereta terhenti sejenak di depan bangunan usang ini untuk menunggu sinyal masuk. Namun, meski kereta terus berlalu-lalang, Stasiun Mampang tetap tak bisa lagi menyambut penumpang.
Secara teknis, kondisi peron di stasiun ini sudah jauh dari standar keselamatan modern. Tingginya yang hanya sejajar dengan roda besi kereta membuatnya mustahil digunakan untuk akses naik-turun penumpang saat ini. Belum lagi panjang peron yang hanya sanggup menampung sekitar empat gerbong, jauh dari kapasitas rangkaian KRL masa kini yang mencapai 10 hingga 12 gerbong.
Antisipasi Krisis BBM, Malaysia Masuki Fase Kritis Energi Mulai Juni 2026
Permukaan peron yang seharusnya rata kini hanya berupa hamparan tanah, kerikil, serta pecahan kaca dan ranting pohon yang berserakan. Kondisi ini mempertegas bahwa revitalisasi transportasi Jakarta masih menyisakan celah besar bagi bangunan-bangunan bersejarah yang kini hanya menjadi penonton di pinggir rel. Jika tidak segera mendapat perhatian, Stasiun Mampang akan benar-benar kehilangan identitasnya sebagai bagian dari perkembangan perkeretaapian di jantung ibu kota.