Pesona Batik Ciwitan: Bagaimana Sentuhan Tangan Ibu-Ibu Ciampea Membawa Wastra Bogor Menuju Panggung Dunia Bersama Desa BRILiaN

Reporter Nasional | LajuBerita
07 Mei 2026, 06:47 WIB
Pesona Batik Ciwitan: Bagaimana Sentuhan Tangan Ibu-Ibu Ciampea Membawa Wastra Bogor Menuju Panggung Dunia Bersama Desa

LajuBerita — Di bawah langit teduh Desa Benteng, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, sebuah transformasi ekonomi tengah berlangsung dengan tenang namun pasti. Di sebuah sudut pemukiman yang asri, deru halus mesin jahit dan tawa renyah sekelompok perempuan menjadi musik harian yang mengiringi lahirnya mahakarya wastra nusantara. Mereka tidak sekadar menjahit; mereka sedang merajut masa depan melalui selembar kain yang kini dikenal luas sebagai Batik Ciwitan.

Produk unggulan ekonomi kreatif ini bukan sekadar kain bermotif biasa. Ia adalah simbol kegigihan, kreativitas, dan pemberdayaan masyarakat akar rumput yang berhasil menembus batas-batas geografis. Batik Ciwitan kini telah menjelma menjadi ikon baru kebanggaan masyarakat Bogor, sekaligus membuktikan bahwa potensi lokal yang dikelola dengan hati mampu bersaing di pasar global.

Berita Lainnya

Astra International Tebar Dividen Jumbo Rp 15,6 Triliun: Bukti Ketangguhan di Tengah Gejolak Pasar

Astra International Tebar Dividen Jumbo Rp 15,6 Triliun: Bukti Ketangguhan di Tengah Gejolak Pasar

Filosofi di Balik “Ciwitan”: Akulturasi Budaya dalam Sehelai Kain

Lahirnya Batik Ciwitan tidak lepas dari sosok inspiratif bernama Eka Harijayanti. Perempuan asal Bantul, Yogyakarta, ini membawa napas seni dari tanah kelahirannya ke tanah Sunda saat ia memutuskan menetap di Ciampea. Sejak tahun 2012, Eka merintis usaha yang ia beri nama Batik Ciwitan dan Eco Print Lawon Geulis. Namun, apa sebenarnya makna di balik nama unik tersebut?

“Nama Batik Ciwitan ini kami ambil dari bahasa Sunda, yaitu ‘ciwit’ yang berarti dicubit. Teknik pembuatannya memang melibatkan proses mencubit atau mengikat kain dengan sangat teliti,” ungkap Eka saat ditemui di sanggarnya. Secara teknis, Batik Ciwitan adalah hasil perkawinan silang yang harmonis antara tradisi batik jumputan Jawa yang kental dengan nilai historis, serta teknik shibori asal Jepang yang dikenal dengan estetika modernnya.

Berita Lainnya

BBRI Tebar Dividen Rp52 Triliun, Simak Laju IHSG dan Strategi Ekspansi KPR BBTN

BBRI Tebar Dividen Rp52 Triliun, Simak Laju IHSG dan Strategi Ekspansi KPR BBTN

Proses kreatif ini menuntut kesabaran ekstra. Satu helai kain berukuran 2,5 meter bisa memakan waktu pengerjaan antara satu hingga tiga minggu. Mengapa begitu lama? Karena setiap pola diciptakan secara manual, bergantung pada suasana hati atau mood sang perajin, sehingga tidak akan pernah ada dua kain yang memiliki motif identik. Inilah yang membuat Batik Ciwitan dicari oleh para kolektor dan penikmat seni yang menghargai eksklusivitas.

Mengubah Waktu Luang Menjadi Peluang Ekonomi bagi Ibu Rumah Tangga

Salah satu aspek paling menyentuh dari keberadaan Batik Ciwitan adalah misi sosial yang dibawanya. Eka tidak ingin tumbuh sendirian. Sejak tahun 2017, ia mulai secara aktif melibatkan ibu-ibu rumah tangga di sekitarnya. Dari yang awalnya hanya dikerjakan mandiri, kini sudah ada sekitar 15 ibu rumah tangga yang menggantungkan harapan tambahan pada usaha ini.

Berita Lainnya

Strategi Energi Prabowo: Indonesia Tetap Kokoh Meski Jalur Selat Hormuz Terganggu

Strategi Energi Prabowo: Indonesia Tetap Kokoh Meski Jalur Selat Hormuz Terganggu

Program pemberdayaan perempuan ini memberikan warna baru di Desa Benteng. Para ibu yang sebelumnya mungkin hanya menghabiskan waktu dengan urusan domestik, kini memiliki keahlian baru sebagai perajin batik profesional. Menariknya, pola kerja yang diterapkan sangat fleksibel. Eka akan membuat desain awal, lalu pengerjaannya dilanjutkan oleh para ibu di rumah masing-masing, memungkinkan mereka tetap bisa mengurus keluarga.

“Dulu, banyak ibu-ibu yang merasa jenuh karena tidak ada aktivitas produktif. Sekarang, kami punya jadwal rutin. Selasa untuk menjahit, Kamis untuk belajar pola, dan Sabtu untuk pewarnaan di sanggar. Sambil membatik, kadang kami juga sambil kumpul-kumpul atau sekadar menonton drama Korea agar suasana tetap ceria,” tutur Eka dengan nada bercanda namun penuh rasa syukur.

Berita Lainnya

IHSG Melesat Tajam ke Level 7.675, Intip Strategi Ekspansi TRJA dan Aksi Rights Issue MPPA

IHSG Melesat Tajam ke Level 7.675, Intip Strategi Ekspansi TRJA dan Aksi Rights Issue MPPA

Sinergi Bersama Desa BRILiaN: Lompatan Besar UMKM Lokal

Langkah Batik Ciwitan semakin mantap saat Desa Benteng terpilih menjadi bagian dari program Desa BRILiaN binaan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Pengakuan ini menjadi titik balik bagi sanggar Lawon Geulis untuk naik kelas ke level yang lebih profesional. Melalui program ini, Batik Ciwitan tidak hanya mendapatkan pengakuan secara administratif, tetapi juga dukungan nyata berupa sarana dan prasarana.

Ketua Unit Pengelola Desa Wisata Benteng, Wahyu Syarief Hidayat, menjelaskan bahwa Batik Ciwitan merupakan salah satu tulang punggung UMKM di wilayahnya. Pada tahun 2023, Desa Benteng menerima dana hibah Desa BRILiaN sebesar Rp 1 miliar, di mana Rp 200 juta di antaranya dialokasikan khusus untuk pengembangan sanggar batik ini.

“Dana tersebut kami konversikan menjadi alat dan bahan produksi yang sangat dibutuhkan, seperti kain berkualitas tinggi, canting, meja cap, hingga rak penyimpanan dan bahan pewarna alami. Bahkan, kami membangun gapura kampung tematik sebagai identitas bahwa wilayah ini adalah binaan Desa BRILiaN yang mandiri,” jelas Wahyu. Dukungan ini secara otomatis meningkatkan kapasitas produksi dan kualitas estetika produk yang dihasilkan.

Menarik Perhatian Dunia: Dari Peru Hingga Negeri Sakura

Keunikan Batik Ciwitan rupanya terdengar hingga ke telinga masyarakat internasional. Sanggar Lawon Geulis kini bukan sekadar tempat produksi, melainkan destinasi wisata budaya yang wajib dikunjungi di Ciampea. Setiap tahun, wisatawan domestik maupun mancanegara rutin menyambangi tempat ini untuk belajar membatik secara langsung.

Eka mengisahkan pengalaman berkesannya saat menjamu mahasiswa dari berbagai negara. “Kami pernah kedatangan tamu dari Peru, Jepang, hingga Amerika Serikat. Mereka sangat antusias belajar teknik mengikat dan mewarnai kain. Dalam sebulan, kunjungan-kunjungan seperti ini bisa membantu kami menjual 10 hingga 20 kain,” ungkapnya. Hal ini membuktikan bahwa produk lokal Ciampea memiliki daya pikat universal yang mampu melintasi batas budaya.

Dengan harga yang dibanderol mulai dari Rp 200 ribu hingga Rp 750 ribu per lembar, Batik Ciwitan menyasar segmen pasar yang mencari nilai seni dan keaslian. Penjualan ini tentu memberikan dampak ekonomi langsung bagi para ibu perajin, meningkatkan kesejahteraan keluarga mereka secara signifikan.

Strategi BRI dalam Memperkuat Fondasi Ekonomi Desa

Di balik kesuksesan Batik Ciwitan, terdapat visi besar dari BRI dalam membangun ekosistem pedesaan yang tangguh. Direktur Micro BRI, Akhmad Purwakajaya, menekankan bahwa program Desa BRILiaN dirancang untuk menciptakan kemandirian ekonomi yang berkelanjutan. Terdapat empat pilar utama yang menjadi fokus utama dalam setiap pembinaan desa.

  • Penguatan BUMDes: Mendorong Badan Usaha Milik Desa sebagai motor penggerak ekonomi warga.
  • Digitalisasi: Membantu pelaku UMKM desa untuk melek teknologi guna memperluas jangkauan pasar.
  • Sustainability: Menjamin keberlangsungan usaha dengan memperhatikan aspek lingkungan dan sosial.
  • Inovasi: Mendorong munculnya produk-produk kreatif yang unik dan memiliki nilai tambah tinggi.

Hingga tahun 2025, tercatat sudah ada lebih dari 5.200 desa di seluruh Indonesia yang telah menyandang status sebagai Desa BRILiaN. Program ini menjadi bukti nyata komitmen perbankan dalam mendukung agenda pemerintah untuk pemerataan kesejahteraan masyarakat melalui sektor ekonomi lokal.

Menatap Masa Depan Wastra Ciampea

Kisah Batik Ciwitan adalah potret keberhasilan dari sebuah kolaborasi antara kreativitas individu, semangat kebersamaan masyarakat, dan dukungan institusi keuangan yang tepat sasaran. Desa Benteng kini tidak lagi dikenal sebagai desa biasa, melainkan pusat kreativitas yang mampu menghasilkan produk berkelas dunia.

Ke depan, tantangan untuk terus berinovasi dan menjaga konsistensi kualitas tetap ada. Namun, dengan pondasi yang sudah kuat dan dukungan komunitas yang solid, Batik Ciwitan diprediksi akan terus berkembang. Kain-kain indah yang lahir dari “ciwitan” tangan ibu-ibu Ciampea ini akan terus bercerita tentang keindahan Bogor ke seluruh penjuru dunia, membuktikan bahwa dari sudut desa kecil, sebuah perubahan besar bisa dimulai.

Reporter Nasional

Reporter Nasional

Mengulas berita politik dan sosial dari berbagai daerah di Indonesia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *