Krisis Rupiah Tembus Rp 17.600: Gubernur BI Dicecar DPR Soal Klaim Stabilitas di Tengah Merosotnya Cadangan Devisa

Reporter Nasional | LajuBerita
18 Mei 2026, 12:47 WIB
Krisis Rupiah Tembus Rp 17.600: Gubernur BI Dicecar DPR Soal Klaim Stabilitas di Tengah Merosotnya Cadangan Devisa

LajuBerita — Ketegangan menyelimuti ruang rapat Komisi XI DPR RI saat aroma krisis mulai tercium dari pergerakan nilai tukar mata uang Garuda. Di tengah laporan bahwa nilai tukar rupiah telah melampaui level psikologis yang mengkhawatirkan, yakni Rp 17.600 per dolar Amerika Serikat (AS), Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, harus berhadapan dengan hujan kritik dari para legislator. Pertemuan ini bukan sekadar rutinitas birokrasi, melainkan sebuah konfrontasi atas kontradiksi antara narasi stabilitas yang dibangun bank sentral dengan realitas pahit yang dirasakan pasar dan masyarakat luas.

Dalam rapat kerja yang berlangsung di Kompleks DPR RI, Jakarta, atmosfer perdebatan memuncak ketika para anggota dewan mempertanyakan efektivitas kebijakan moneter yang diambil BI selama ini. Pasalnya, meskipun berbagai instrumen telah dikerahkan, tren pelemahan kurs rupiah seolah tidak terbendung, menciptakan ketidakpastian ekonomi yang semakin dalam di tingkat domestik.

Berita Lainnya

Indonesia Cetak Sejarah Dunia: Uji Coba Biodiesel B50 Resmi Meluncur di Jalur Kereta Api

Indonesia Cetak Sejarah Dunia: Uji Coba Biodiesel B50 Resmi Meluncur di Jalur Kereta Api

Kritik Pedas di Senayan: Antara Klaim Stabil dan Realita Pasar

Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Harris Turino, menjadi salah satu sosok yang paling vokal dalam mencecar Perry Warjiyo. Harris menyoroti pernyataan-pernyataan Gubernur BI dalam berbagai kesempatan yang menyebutkan bahwa kondisi rupiah relatif terkendali jika dibandingkan dengan mata uang negara-negara berkembang lainnya (emerging markets). Namun, bagi Harris, narasi tersebut berbanding terbalik dengan persepsi yang berkembang di tengah masyarakat.

“Kita tahu bahwa tadi teman-teman mengatakan kursnya sudah tembus Rp 17.600. Bahkan, saat ini sudah muncul ejekan di tengah masyarakat, kalau nanti menyentuh Rp 17.845, itu artinya Indonesia merdeka, sesuai tanggal 17-8-45,” ujar Harris dengan nada menyindir. Candaan satir tersebut sebenarnya menyimpan kekhawatiran mendalam bahwa ekonomi nasional sedang tidak baik-baik saja.

Berita Lainnya

SPBU Rest Area KM 21 Tol Jagorawi Tutup Sementara: Inilah Jadwal Lengkap dan Jalur Alternatif Pengisian BBM

SPBU Rest Area KM 21 Tol Jagorawi Tutup Sementara: Inilah Jadwal Lengkap dan Jalur Alternatif Pengisian BBM

Harris menekankan bahwa membandingkan rupiah dengan negara lain tidak lagi cukup untuk meredam kekhawatiran publik. Ketika harga-harga barang impor mulai merangkak naik dan daya beli masyarakat tergerus akibat pelemahan dolar AS yang kian perkasa, klaim stabilitas dari otoritas moneter justru terkesan seperti penyangkalan terhadap realitas fundamental ekonomi yang sedang goyah.

Amunisi BI Terkuras: Intervensi Masif Tapi Rupiah Tetap Terpuruk

LajuBerita mencatat bahwa kekhawatiran DPR bukan tanpa alasan teknis yang kuat. Harris Turino memaparkan deretan kebijakan agresif yang telah dilakukan BI untuk membentengi rupiah, namun hasilnya dinilai masih jauh dari harapan. Salah satu poin krusial adalah penurunan drastis posisi cadangan devisa (Cadev) Indonesia yang semula berada di angka US$ 156 miliar, kini melorot hingga ke level US$ 146 miliar.

Berita Lainnya

Badai Capital Outflow: Dana Asing Puluhan Triliun Rupiah Hengkang dari Pasar Modal Indonesia

Badai Capital Outflow: Dana Asing Puluhan Triliun Rupiah Hengkang dari Pasar Modal Indonesia

“Pertanyaan kritisnya adalah, semua instrumen yang dimiliki BI sudah dilakukan. Mulai dari intervensi besar-besaran, kenaikan instrumen SRBI (Sekuritas Rupiah Bank Indonesia) hingga 6,41%, hingga pembelian SBN (Surat Berharga Negara) sebesar Rp 332 triliun sepanjang 2025 ditambah lagi Rp 133 triliun. Namun, why? Kenapa rupiah tetap berlanjut mengalami depresiasi?” tanya Harris retoris.

Selain intervensi pasar, BI juga telah menerapkan pengetatan pembelian dolar AS secara fisik. Namun, langkah-langkah ini tampaknya hanya menjadi obat penahan sakit sementara, bukan penyembuh akar masalah. Anggota dewan menilai bahwa jika semua instrumen moneter sudah dikerahkan tetapi mata uang tetap jatuh, maka ada sesuatu yang jauh lebih serius di balik layar ekonomi nasional.

Berita Lainnya

Memburu Cuan Berkah: Sukuk ST016 Resmi Meluncur, Cara Cerdas Investasi Syariah Mulai Rp 1 Juta via BRImo

Memburu Cuan Berkah: Sukuk ST016 Resmi Meluncur, Cara Cerdas Investasi Syariah Mulai Rp 1 Juta via BRImo

Menyoroti ‘Penyakit’ Domestik: Bukan Sekadar Tekanan Global

Selama ini, Bank Indonesia seringkali menunjuk faktor eksternal—seperti kebijakan suku bunga tinggi The Fed (Higher for Longer) dan ketegangan geopolitik—sebagai biang keladi pelemahan rupiah. Namun, dalam rapat tersebut, Harris Turino mendesak BI untuk berani jujur mengakui adanya masalah fundamental di dalam negeri yang turut memperparah keadaan.

Menurut Harris, ada empat masalah domestik utama yang gagal diantisipasi atau setidaknya belum terkomunikasikan dengan transparan kepada publik:

  • Masalah Fiskal: Ketidakpastian mengenai keberlanjutan fiskal dan beban utang negara.
  • Defisit Transaksi Berjalan: Ketimpangan antara ekspor dan impor yang membuat pasokan valas dalam negeri menipis.
  • Capital Outflow: Arus modal keluar dalam jumlah besar yang dilakukan oleh investor asing karena melihat risiko investasi di Indonesia meningkat.
  • Kepercayaan Investor: Menurunnya confidence terhadap arah kebijakan ekonomi pemerintah di masa depan.

“Ini harus jujur diakui. Ada masalah di fiskal, ada defisit di current account, dan ada masalah serius pada kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia,” tegas Harris.

Indikator Stabilitas BI Dipertanyakan

Senada dengan Harris, Charles Meikyansah, anggota Komisi XI lainnya, mempertanyakan metrik atau indikator apa yang sebenarnya digunakan oleh Bank Indonesia dalam mendefinisikan istilah ‘terjaga’. Baginya, angka Rp 17.600 adalah lonceng peringatan (alarm) yang seharusnya mengubah cara pandang BI terhadap situasi saat ini.

“BI menyatakan stabilitas tetap terjaga, namun secara fakta rupiah telah melemah hingga menembus Rp 17.600. Pertanyaan kami sederhana, indikator terjaga yang digunakan BI ini bagaimana? Apakah BI masih melihat ini sebagai fluktuasi biasa, atau sebenarnya sudah masuk kategori tekanan fundamental?” cecar Charles.

Charles juga menyoroti tren penurunan cadangan devisa selama tiga bulan berturut-turut. Jika tekanan terus berlanjut tanpa ada perubahan strategi yang signifikan, ia khawatir kemampuan BI untuk melakukan intervensi di masa depan akan semakin terbatas. Fenomena capital outflow yang nilainya fantastis menjadi fokus utama yang harus segera dicarikan solusinya oleh tim di bawah kepemimpinan Perry Warjiyo.

Harapan di Tengah Ketidakpastian

Pertemuan ini menegaskan bahwa tantangan ekonomi ke depan tidaklah mudah. LajuBerita memandang bahwa sinkronisasi antara kebijakan moneter oleh Bank Indonesia dan kebijakan fiskal oleh pemerintah menjadi harga mati untuk menstabilkan kembali nilai tukar rupiah. Kepercayaan publik dan pasar tidak bisa dibangun hanya dengan retorika stabilitas, melainkan melalui data yang transparan dan aksi nyata di lapangan.

Masyarakat kini menanti, apakah Bank Indonesia akan merombak strateginya atau tetap bertahan dengan pola intervensi yang sejauh ini terbukti belum mampu menjinakkan sang ‘Greenback’. Jika level Rp 17.600 ini terus bertahan atau bahkan melampaui angka psikologis yang dikhawatirkan DPR, maka dampak domino terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi nasional niscaya akan menjadi kenyataan yang pahit bagi seluruh rakyat Indonesia.

Reporter Nasional

Reporter Nasional

Mengulas berita politik dan sosial dari berbagai daerah di Indonesia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *