Menenun Ketahanan Pangan dari Hulu: Strategi LajuBerita Mengawal Stabilitas Harga Melalui Tangan Petani

Reporter Nasional | LajuBerita
19 Mei 2026, 00:48 WIB
Menenun Ketahanan Pangan dari Hulu: Strategi LajuBerita Mengawal Stabilitas Harga Melalui Tangan Petani

LajuBerita — Di bawah bayang-bayang Gunung Penanggungan, Mojokerto, napas pertanian Indonesia sedang mengalami metamorfosis. Bukan sekadar soal angka pertumbuhan ekonomi di atas kertas, melainkan tentang dedikasi di atas tanah yang becek dan penuh peluh. Di sini, seorang pria bernama Slamet telah memilih jalan sunyi sejak tahun 2007. Di saat arus besar petani berlomba-lomba menyuntikkan pestisida dan pupuk kimia demi panen instan, Slamet justru melangkah mundur untuk maju: ia memilih jalan organik.

“Pertanian konvensional itu sudah lebih dari setengah abad mendegradasi mikroba tanah kita. Sistem organik adalah cara kita mengembalikan hak alam, memperkaya kembali biota tanah agar cacing-cacing tetap bisa tumbuh subur. Mereka adalah relawan yang bekerja 24 jam tanpa perlu kita gaji,” ujar inisiator Komunitas Organik Brenjonk tersebut dengan nada filosofis saat berbincang dengan tim redaksi kami. Filosofi Slamet bukan sekadar romantisasi desa, melainkan fondasi dari apa yang kita sebut hari ini sebagai ketahanan pangan nasional yang berkelanjutan.

Berita Lainnya

Pesona Batik Ciwitan: Bagaimana Sentuhan Tangan Ibu-Ibu Ciampea Membawa Wastra Bogor Menuju Panggung Dunia Bersama Desa BRILiaN

Pesona Batik Ciwitan: Bagaimana Sentuhan Tangan Ibu-Ibu Ciampea Membawa Wastra Bogor Menuju Panggung Dunia Bersama Desa BRILiaN

Transformasi Menuju GPIPS 2026: Lebih dari Sekadar Ganti Nama

Perjuangan Slamet di kaki gunung hanyalah satu dari ribuan kepingan puzzle yang coba disatukan oleh Bank Indonesia (BI). Bersama Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP-TPID), BI kini memperkuat langkah melalui Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) 2026. Program ini merupakan evolusi strategis dari Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) yang sudah berjalan sebelumnya.

Diluncurkan secara resmi pada 13 Mei 2026 di Gudang Bulog Sidoarjo, GPIPS membawa pesan kuat bahwa pengendalian inflasi tidak bisa hanya dilakukan di pasar-pasar ritel atau meja perundingan. Deputi Gubernur Bank Indonesia, Aida S. Budiman, menekankan bahwa fokus utama saat ini adalah penguatan di sektor hulu—mulai dari ladang, kandang, hingga sawah—sebelum komoditas tersebut menyentuh meja makan konsumen.

Berita Lainnya

Transformasi Auditor di Era Digital: Menguasai Audit Berbasis Data Melalui Pelatihan SMART-AUDIT ATLAS Batch 6

Transformasi Auditor di Era Digital: Menguasai Audit Berbasis Data Melalui Pelatihan SMART-AUDIT ATLAS Batch 6

“Kami tidak lagi hanya bicara soal stabilisasi harga jangka pendek. GPIPS dirancang untuk menyentuh aspek produksi, pascapanen, hingga distribusi. Tujuannya satu: menciptakan ketahanan pangan yang tidak hanya kuat, tapi juga berkelanjutan,” tegas Aida. Tiga komoditas utama yang menjadi garda terdepan dalam pengawasan ini adalah beras, cabai, dan bawang merah.

Nganjuk: Benteng Pertahanan Benih Bawang Merah Nasional

Bergeser ke Kabupaten Nganjuk, kita akan menemukan sosok Bambang Soeparno, Kepala Desa Mojorembun sekaligus pembina Gapoktan Karya Abadi. Jika Anda menikmati hidangan dengan taburan bawang goreng yang renyah di seluruh pelosok Indonesia, ada kemungkinan besar benihnya berasal dari tangan dingin Bambang dan kawan-kawan.

Nganjuk bukanlah sekadar daerah produsen bawang merah biasa. Di sini, sekitar 20 ribu hektare lahan dikelola setiap tahun dengan produktivitas mencapai 15 ton per hektare. Namun, yang menarik, hampir 50 persen dari total produksi tersebut bukan untuk dikonsumsi langsung, melainkan dikelola menjadi benih berkualitas tinggi, khususnya varietas Tajuk yang legendaris.

Berita Lainnya

Mafia Energi Terpojok: Polda Jatim Bongkar 66 Kasus Penyelewengan BBM Subsidi, Kerugian Capai Miliaran

Mafia Energi Terpojok: Polda Jatim Bongkar 66 Kasus Penyelewengan BBM Subsidi, Kerugian Capai Miliaran

“Varietas Tajuk adalah asli Nganjuk. Keunggulannya adalah daya adaptasi yang luar biasa di berbagai iklim, dari Sabang sampai Merauke,” jelas Bambang. Sejak menjadi klaster binaan Bank Indonesia pada 2015, Gapoktan Karya Abadi telah mengalami lompatan teknologi yang signifikan. Salah satu yang paling dirasakan adalah digitalisasi irigasi melalui pompa submersible bertenaga listrik.

Bayangkan, jika dulu satu unit pompa diesel hanya mampu mengairi lahan setengah hektare dengan biaya operasional yang mahal, kini satu unit pompa listrik bisa mencakup hingga 5 hektare lahan. Efisiensi biaya produksi ini menjadi kunci utama agar harga bawang di tingkat petani tetap stabil namun tetap kompetitif bagi konsumen.

Hilirisasi: Mengubah Air Mata Menjadi Cuan Melalui Pasta Bawang

Stabilitas harga pangan seringkali terancam oleh fenomena musiman. Saat panen raya, harga seringkali anjlok, menyisakan kesedihan bagi petani. Di sinilah peran hilirisasi menjadi krusial. Artika Widyastuti, yang memimpin Kelompok Wanita Tani (KWT) di Desa Mojorembun, menunjukkan cara cerdas menyiasati fluktuasi harga.

Berita Lainnya

AHY Beberkan Strategi Kolosal Proyek Giant Sea Wall: Benteng Raksasa Pelindung 50 Juta Jiwa di Pantura

AHY Beberkan Strategi Kolosal Proyek Giant Sea Wall: Benteng Raksasa Pelindung 50 Juta Jiwa di Pantura

Melalui pendampingan dari BI sejak 2023, KWT ini tidak lagi membiarkan bawang merah yang tak terserap pasar membusuk begitu saja. Mereka mengolahnya menjadi produk bernilai tambah seperti bawang merah krispi, sambal bawang, hingga inovasi terbaru: pasta bawang merah. Produk pasta ini kini menjadi primadona di marketplace, memberikan bantalan ekonomi bagi petani saat harga bawang mentah sedang jatuh.

“Produk olahan ini adalah penyelamat pendapatan petani. Ketika harga bawang jatuh di bawah standar, kami masih bisa bernapas lega karena ada pendapatan dari produk turunan,” ungkap Artika dengan bangga.

Inovasi dari Lamongan: Bank Limbah Ternak ‘LITERASI’

Cerita inspiratif lainnya datang dari Desa Sumbersari, Lamongan. Di bawah kepemimpinan Tomi Distianto, Koperasi Tani Ternak Literasi Sumbersari menciptakan ekosistem pertanian terintegrasi yang unik. Mereka mengelola ratusan ekor ternak, mulai dari sapi limosin hingga kambing lokal.

Namun, mahkota dari koperasi ini adalah Bank LITERASI (Limbah Ternak Koperasi Sumbersari). Konsepnya sederhana namun revolusioner: warga menabung kotoran ternak yang kemudian dikonversi menjadi nilai ekonomi. Kotoran yang dulunya mencemari lingkungan kini diolah menjadi pupuk organik bermerek LITERASI yang dipasarkan hingga ke tujuh kabupaten di Jawa Timur.

Tak berhenti di situ, koperasi ini juga memiliki lini bisnis warung sate, layanan aqiqah, hingga edufarm yang menjadi tempat belajar bagi mahasiswa dan peneliti. Dengan omzet melampaui Rp 50 juta per bulan, model bisnis ini membuktikan bahwa kesejahteraan petani bisa dicapai melalui pengelolaan limbah yang cerdas dan integrasi usaha dari hulu ke hilir.

Tujuh Pilar GPIPS: Peta Jalan Menuju Pangan Sejahtera

Keberhasilan di Mojokerto, Nganjuk, dan Lamongan bukanlah sebuah kebetulan. Ini adalah hasil dari implementasi tujuh program unggulan dalam GPIPS 2026 yang diusung oleh Bank Indonesia:

  • Optimalisasi GAP (Good Agricultural Practices): Meningkatkan produktivitas melalui praktik tani yang baik dan ramah lingkungan.
  • Penguatan Hilirisasi: Mendorong pembentukan kelembagaan petani sebagai offtaker agar produk memiliki nilai tambah.
  • Kerja Sama Antar Daerah (KAD): Memastikan distribusi pasokan pangan berjalan lancar antar wilayah yang surplus dan defisit.
  • Fasilitasi Distribusi: Memangkas rantai pasok yang terlalu panjang untuk menekan harga di tingkat konsumen.
  • Operasi Pasar: Langkah taktis untuk meredam lonjakan harga yang mendadak.
  • Penguatan Neraca Pangan: Pemetaan data pasokan dan kebutuhan yang lebih akurat secara real-time.
  • Komunikasi Ekspektasi Inflasi: Mengelola persepsi masyarakat agar tidak terjadi panic buying.

Pada akhirnya, upaya yang dilakukan Bank Indonesia melalui GPIPS adalah tentang menjaga harapan para petani seperti Slamet, Bambang, dan Tomi. Dengan memperkuat pondasi di tingkat hulu, kita tidak hanya sedang menjaga angka inflasi tetap rendah di layar televisi, tetapi juga sedang memastikan bahwa setiap piring nasi dan bumbu dapur di meja makan rakyat Indonesia berasal dari sistem yang adil, berkelanjutan, dan menyejahterakan para pahlawan pangan kita.

Reporter Nasional

Reporter Nasional

Mengulas berita politik dan sosial dari berbagai daerah di Indonesia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *