Purbaya Yudhi Sadewa Menepis Bayang-Bayang Krisis: Strategi Pemerintah Hadapi Terpuruknya IHSG dan Rupiah

Reporter Nasional | LajuBerita
19 Mei 2026, 06:50 WIB
Purbaya Yudhi Sadewa Menepis Bayang-Bayang Krisis: Strategi Pemerintah Hadapi Terpuruknya IHSG dan Rupiah

LajuBerita — Gejolak di pasar modal dan nilai tukar mata uang seringkali memicu kepanikan massal, namun bagi Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, situasi ini justru menjadi momentum untuk membuktikan ketangguhan ekonomi nasional. Belakangan ini, awan mendung menggelayuti pasar keuangan Indonesia, di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) mengalami tekanan hebat yang cukup mengkhawatirkan bagi para pelaku pasar.

Dalam dinamika perdagangan yang sangat volatil, IHSG sempat terjun bebas hingga 4 persen, menyentuh level psikologis 6.400-an. Meski di pengujung hari bursa berhasil melakukan rebound tipis dan ditutup di level 6.599, sentimen negatif masih terasa kental. Di sisi lain, mata uang Garuda dipaksa bertekuk lutut di hadapan kedigdayaan Dolar AS, menembus level terendah di kisaran Rp 17.600 per US$. Angka-angka ini tak pelak memicu perdebatan di ruang publik mengenai arah ekonomi Indonesia ke depan.

Berita Lainnya

Gairah Pasar Modal: IHSG Melesat ke Level 7.680 di Tengah Dominasi Saham Hijau

Gairah Pasar Modal: IHSG Melesat ke Level 7.680 di Tengah Dominasi Saham Hijau

Respon Tenang di Tengah Badai Sentimen

Menyikapi kondisi yang terlihat genting tersebut, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tampil dengan pembawaan yang tenang dan optimis. Saat ditemui di Lanud Halim Perdanakusumah, Jakarta Timur, Purbaya menegaskan bahwa anjloknya pasar saham bukanlah akhir dari segalanya. Baginya, angka-angka merah di papan bursa hanyalah refleksi dari dinamika sesaat yang masih bisa diperbaiki dalam waktu dekat.

“Nggak apa-apa, nanti kita perbaiki. Kan fondasi ekonominya bagus, itu masalah sentimen jangka pendek saja,” ujar Purbaya dengan nada yakin. Beliau menegaskan bahwa fokus pemerintah saat ini adalah menjaga agar fondasi ekonomi makro tetap kokoh, sehingga pembangunan nasional tidak akan terhambat oleh fluktuasi angka-angka di pasar finansial. Purbaya percaya bahwa selama sektor riil tetap berjalan dan mesin pertumbuhan tetap berputar, koreksi di pasar saham akan bersifat temporer.

Berita Lainnya

Menhub Dudy Purwagandhi Tinjau Langsung Pemulihan Jalur KRL Bekasi-Cikarang: Babak Baru Pasca-Insiden Tragis

Menhub Dudy Purwagandhi Tinjau Langsung Pemulihan Jalur KRL Bekasi-Cikarang: Babak Baru Pasca-Insiden Tragis

Menangkis Narasi Krisis 1998

Pelemahan Rupiah yang cukup dalam memicu munculnya narasi di media sosial dan sebagian kalangan analis yang membandingkan situasi saat ini dengan krisis moneter 1998. Namun, Purbaya dengan tegas menolak analogi tersebut. Ia menilai bahwa membandingkan kondisi sekarang dengan tragedi ekonomi 28 tahun silam adalah sebuah kekeliruan besar dalam membaca data dan konteks kebijakan.

“Oh ini kan banyak sentimen. Kalau Rupiah melemah seolah kita akan bergerak seperti 1998 lagi. Beda, 1998 itu kebijakannya salah,” tutur Purbaya menjelaskan. Ia menekankan bahwa pada masa itu, Indonesia sedang dihantam resesi sejak tahun 1997 dan kebijakan yang diambil tidak mampu membendung arus pelarian modal serta keruntuhan sistem perbankan. Kondisi saat ini sangat kontras; ekonomi Indonesia masih mencatatkan pertumbuhan yang cukup kencang di tengah ketidakpastian global.

Berita Lainnya

Misi Hijau di Negeri Tirai Bambu: Indonesia Gandeng Raksasa Longi Demi Revolusi Energi Surya

Misi Hijau di Negeri Tirai Bambu: Indonesia Gandeng Raksasa Longi Demi Revolusi Energi Surya

Menurutnya, ketiadaan resesi memberikan ruang gerak yang sangat luas bagi pemerintah dan otoritas terkait untuk melakukan intervensi dan perbaikan. Kebijakan ekonomi saat ini didesain jauh lebih prudent dan responsif terhadap perubahan pasar, berbeda dengan struktur ekonomi masa lalu yang lebih rentan terhadap guncangan eksternal.

Strategi ‘Serok Bawah’ Bagi Investor

Menariknya, di tengah kepanikan banyak investor ritel yang melakukan panic selling, Purbaya justru melontarkan ajakan yang berani. Ia meminta para investor untuk tidak takut dan justru melihat penurunan harga saham ini sebagai peluang emas untuk menambah portofolio dengan harga diskon. Dalam istilah pasar modal, ia menyarankan strategi “serok bawah”.

“Jadi, teman-teman nggak usah khawatir, investor pasar saham kalau saya bilang jangan takut serok ke bawah sekarang. Jadi, jangan lupa beli saham,” pesannya. Logika yang dibangun Purbaya adalah ketika fundamental perusahaan-perusahaan di bursa masih sehat namun harga sahamnya turun akibat sentimen global, maka nilai intrinsik perusahaan tersebut sebenarnya masih tinggi. Ini adalah momentum bagi mereka yang memiliki pandangan jangka panjang untuk mendapatkan aset berkualitas dengan modal yang lebih murah.

Berita Lainnya

Efektivitas Kebijakan DMO 35 Persen: Harga Minyakita Melandai, Pasokan Nasional Kian Terkendali

Efektivitas Kebijakan DMO 35 Persen: Harga Minyakita Melandai, Pasokan Nasional Kian Terkendali

Intervensi Masif di Pasar Obligasi

Tentu saja, pemerintah tidak hanya sekadar memberikan imbauan moral. Langkah konkret telah disiapkan untuk menstabilkan pasar. Selepas dipanggil oleh Presiden Prabowo ke Kompleks Istana Kepresidenan, Purbaya mengungkapkan strategi intervensi di pasar obligasi atau Surat Berharga Negara (SBN). Pemerintah berkomitmen menggelontorkan dana sebesar Rp 2 triliun setiap hari untuk melakukan buyback atau pembelian obligasi.

Langkah ini bertujuan untuk menjaga agar harga obligasi pemerintah tetap stabil. Purbaya menjelaskan, “Saya minta masuk 2 triliun setiap hari. Kita sudah masuk ke bond market bertahap ya. Harusnya ke depan, minggu-minggu ini akan lebih stabil.” Intervensi ini sangat krusial karena pergerakan di pasar obligasi memiliki korelasi kuat dengan stabilitas Rupiah. Ketika harga obligasi stabil dan imbal hasil (yield) turun, maka investor asing akan cenderung bertahan dan tidak menarik modalnya keluar dari Indonesia (capital outflow).

Pemanfaatan Saldo Anggaran Lebih (SAL)

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah dari mana sumber dana intervensi tersebut? Purbaya menjelaskan bahwa pemerintah memanfaatkan pengelolaan kas yang ada, termasuk Saldo Anggaran Lebih (SAL) yang jumlahnya mencapai Rp 420 triliun. Penggunaan dana SAL dianggap sebagai langkah cash management yang cerdas karena dana tersebut merupakan uang menganggur yang bisa diputar untuk menciptakan sentimen positif di pasar.

“Uangnya nggak hilang, cuma diputar saja supaya ada sedikit sentimen positif di pasar obligasi,” terangnya. Dengan masuknya pemerintah ke pasar SBN, diharapkan akan memicu minat investor asing untuk kembali masuk. Ketika asing tidak lagi menjual obligasi secara masif, maka tekanan terhadap nilai tukar Rupiah akan mereda dengan sendirinya. Purbaya optimis bahwa dengan potensi capital gain yang menarik di pasar obligasi, stabilitas akan segera kembali dalam waktu dekat.

Menjaga Optimisme di Tengah Volatilitas

Secara keseluruhan, pesan yang ingin disampaikan oleh LajuBerita melalui pantauan kebijakan pemerintah ini adalah bahwa Indonesia memiliki amunisi yang cukup untuk menghadapi guncangan finansial. Meskipun Rupiah dan IHSG sedang berada dalam tekanan, koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter terlihat tetap solid. Strategi intervensi yang terukur dan pemanfaatan cadangan kas negara menjadi benteng pertahanan utama.

Pemerintah mengajak seluruh lapisan masyarakat dan pelaku usaha untuk tetap tenang dan melihat gambaran besar dari stabilitas keuangan nasional. Dengan fundamental ekonomi yang masih tumbuh positif dan intervensi pasar yang terus dilakukan secara konsisten, badai di pasar keuangan ini diharapkan hanyalah sebuah riak kecil dalam perjalanan panjang pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa pemerintahan baru.

  • Pertumbuhan ekonomi tetap terjaga meski pasar saham fluktuatif.
  • Intervensi Rp 2 triliun per hari dilakukan di pasar obligasi untuk menjaga Rupiah.
  • Investor disarankan tidak panik dan memanfaatkan harga saham yang sedang murah.
  • Cadangan SAL sebesar Rp 420 triliun menjadi banteng likuiditas pemerintah.

Ke depan, penguatan koordinasi antar lembaga dalam Komite Stabilitas Sektor Keuangan (KSSK) akan menjadi kunci. Tantangan global mungkin tidak akan mereda dalam sekejap, namun dengan strategi yang tepat, Indonesia memiliki peluang besar untuk keluar dari tekanan ini dengan posisi ekonomi yang jauh lebih kuat dari sebelumnya.

Reporter Nasional

Reporter Nasional

Mengulas berita politik dan sosial dari berbagai daerah di Indonesia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *