Negosiasi Alot di Selat Hormuz: Dua Kapal Tanker Pertamina Masih Menunggu Lampu Hijau untuk Melintas

Reporter Nasional | LajuBerita
08 Apr 2026, 15:24 WIB
Negosiasi Alot di Selat Hormuz: Dua Kapal Tanker Pertamina Masih Menunggu Lampu Hijau untuk Melintas

LajuBerita — Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kian berdampak pada operasional logistik energi nasional. Dua kapal tanker raksasa kebanggaan Indonesia milik PT Pertamina International Shipping (PIS), yakni VLCC Pertamina Pride dan Gamsunoro, dilaporkan masih belum dapat melintasi Selat Hormuz. Kondisi ini memicu langkah diplomasi intensif antara Pemerintah Indonesia dengan otoritas terkait guna memastikan keamanan jalur pelayaran tersebut.

Pjs Corporate Secretary PIS, Vega Pita, mengonfirmasi bahwa saat ini kedua unit kapal tanker tersebut masih berada di area Teluk Arab. Hingga Rabu (8/4/2026), proses koordinasi terus dilakukan di berbagai level untuk mencari jalan keluar terbaik agar armada tersebut bisa segera melanjutkan perjalanan di tengah situasi yang dinamis.

Berita Lainnya

Kemenperin Tangkis Isu Deindustrialisasi: Bukti Pertumbuhan Manufaktur RI Masih Berada di Jalur Hijau

Kemenperin Tangkis Isu Deindustrialisasi: Bukti Pertumbuhan Manufaktur RI Masih Berada di Jalur Hijau

Langkah Diplomasi dan Koordinasi 24 Jam

Menghadapi situasi pelik di Selat Hormuz, PIS tidak bergerak sendirian. Vega menjelaskan bahwa pihaknya tengah menjalin komunikasi yang sangat intens dengan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Republik Indonesia. Peran Kemlu menjadi krusial dalam melakukan pendekatan diplomatik langsung dengan otoritas Iran demi menjamin keselamatan aset negara tersebut.

“PIS terus melakukan koordinasi intensif dengan pihak Kementerian Luar Negeri, yang secara aktif menjalin komunikasi diplomatik dengan otoritas terkait. Hingga saat ini, upaya diplomasi tersebut masih terus berjalan tanpa henti,” ungkap Vega dalam pernyataan resminya.

Tim gabungan antara PIS dan Kemlu dilaporkan melakukan pemantauan selama 24 jam penuh dalam sepekan. Hal ini dilakukan bukan hanya untuk memantau pergerakan fisik kapal secara real-time, tetapi juga untuk mematangkan persiapan teknis agar saat lampu hijau diberikan, proses pelintasan dapat dilakukan dengan tingkat keamanan maksimal tanpa hambatan berarti.

Berita Lainnya

Misi Strategis Prabowo dan Bahlil di Moskow: Menakar Peluang Pasokan Minyak Rusia untuk Indonesia

Misi Strategis Prabowo dan Bahlil di Moskow: Menakar Peluang Pasokan Minyak Rusia untuk Indonesia

Prioritas Utama: Keselamatan Awak dan Muatan

Isu keamanan di wilayah perairan internasional ini memang menjadi sorotan dunia, mengingat Selat Hormuz adalah jalur urat nadi perdagangan minyak global. Namun, bagi Pertamina, aspek kemanusiaan tetap berada di pucuk prioritas. Perusahaan menegaskan bahwa segala langkah yang diambil didasarkan pada perhitungan risiko yang sangat matang.

“Prioritas utama perusahaan tetap tertuju pada keselamatan seluruh awak kapal, serta keamanan kapal itu sendiri beserta muatan yang dibawa,” tegas Vega. Ia juga menambahkan bahwa dukungan moral serta doa dari masyarakat Indonesia sangat diharapkan agar kebuntuan ini segera berakhir dan seluruh personel bisa kembali bertugas dalam keadaan aman dan selamat.

Berita Lainnya

Krisis Avtur Global: Perang AS-Iran Ancam Operasional Maskapai dan Picu Lonjakan Harga Tiket

Krisis Avtur Global: Perang AS-Iran Ancam Operasional Maskapai dan Picu Lonjakan Harga Tiket

Situasi di Selat Hormuz memang kerap menjadi titik panas hubungan internasional yang kompleks. Pelibatan diplomasi internasional diharapkan mampu menjadi kunci pembuka jalur bagi kapal-kapal Indonesia yang mengemban misi penting dalam menjaga stabilitas distribusi energi nasional.

Reporter Nasional

Reporter Nasional

Mengulas berita politik dan sosial dari berbagai daerah di Indonesia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *