Di Bawah Radar Langsung Prabowo: Mengapa Hilirisasi Ayam Nasional Tak Boleh ‘Santai-Santai’?

Reporter Nasional | LajuBerita
12 Jun 2026, 16:46 WIB
Di Bawah Radar Langsung Prabowo: Mengapa Hilirisasi Ayam Nasional Tak Boleh 'Santai-Santai'?

LajuBerita — Peta jalan menuju kedaulatan pangan Indonesia kini memasuki babak baru yang lebih intensif. Bukan sekadar wacana di atas kertas, proyek hilirisasi ayam terintegrasi kini berada di bawah pengawasan langsung Presiden Prabowo Subianto. Langkah ini menandakan bahwa sektor perunggasan bukan lagi sekadar urusan teknis peternakan, melainkan instrumen strategis negara dalam menjaga ketahanan protein nasional.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) Kementerian Pertanian, Agung Suganda, menegaskan bahwa urgensi proyek ini telah mencapai level tertinggi dalam prioritas pemerintah. Dalam sebuah prosesi penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan berbagai pemerintah daerah, mulai dari Provinsi Gorontalo hingga Kabupaten Bima, aroma percepatan sangat terasa. Pemerintah tidak lagi memberikan ruang bagi birokrasi yang lamban dalam mengeksekusi program vital ini.

Berita Lainnya

Terobosan Besar Prabowo: Pangkas Bunga Kredit Rakyat Jadi 5% dan Program Rumah 40 Tahun untuk Kaum Buruh

Terobosan Besar Prabowo: Pangkas Bunga Kredit Rakyat Jadi 5% dan Program Rumah 40 Tahun untuk Kaum Buruh

Komitmen Tanpa Kompromi: Pengawasan Langsung dari Istana

Dinamika di lapangan menunjukkan betapa seriusnya Presiden Prabowo dalam memantau setiap jengkal progres hilirisasi ini. Agung menceritakan bahwa intensitas komunikasi dengan Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman meningkat drastis. Pertemuan-pertemuan rutin, bahkan yang dilakukan saat fajar menyingsing pukul 05.30 WIB, selalu dibuka dengan pertanyaan yang sama mengenai perkembangan proyek perunggasan.

“Setiap pagi, setiap bertemu Pak Menteri, termasuk tadi pagi jam setengah enam, yang pertama kali ditanyakan adalah bagaimana progres hilirisasi ayamnya. Saya diminta untuk mengawal betul dan memastikan semuanya berjalan tanpa hambatan. Mengapa? Karena hilirisasi ayam terintegrasi ini dipantau dan dimonitor langsung oleh Bapak Presiden,” ungkap Agung dalam sambutannya di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan.

Berita Lainnya

Antisipasi Macet Horor, Pemerintah Siapkan Perombakan Masif Rest Area KM 57 dan KM 62 Tol Trans Jawa

Antisipasi Macet Horor, Pemerintah Siapkan Perombakan Masif Rest Area KM 57 dan KM 62 Tol Trans Jawa

Narasi yang dibangun sangat jelas: tidak ada waktu untuk bersantai. Presiden menginginkan hasil nyata yang dapat dirasakan oleh masyarakat, terutama dalam memastikan pasokan daging ayam yang stabil dan terjangkau di seluruh pelosok negeri. Pengawasan ketat ini bertujuan untuk memutus rantai inefisiensi yang selama ini sering menghantui sektor pangan kita.

Langkah Taktis Kementan: Menunjuk ‘Panglima’ Lapangan di PT Berdikari

Untuk memastikan instruksi Presiden berjalan mulus, Kementerian Pertanian melakukan langkah restrukturisasi strategis. Agung Suganda secara resmi ditunjuk sebagai Komisaris Utama PT Berdikari, sebuah langkah yang diyakini akan memperpendek jalur koordinasi antara regulator dan pelaksana di lapangan. Penunjukan ini bukan sekadar rotasi jabatan, melainkan pemberian mandat penuh untuk mengakselerasi ekosistem ketahanan pangan.

Berita Lainnya

Reformasi Tata Kelola Ekspor Nasional: Batu Bara dan Sawit Kini Masuk Radar Pengawasan PT Danantara

Reformasi Tata Kelola Ekspor Nasional: Batu Bara dan Sawit Kini Masuk Radar Pengawasan PT Danantara

Agung menjelaskan bahwa keberadaannya di jajaran manajemen PT Berdikari, bersama tiga direksi baru, diharapkan mampu menjadi motor penggerak korporasi. Fokus utamanya adalah memastikan bahwa setiap kebijakan hilirisasi dapat segera diimplementasikan dalam bentuk infrastruktur fisik dan sistem distribusi yang solid. Kendati dituntut bergerak cepat, ia menegaskan bahwa prinsip-prinsip Good Corporate Governance (GCG) tetap menjadi harga mati yang tidak boleh dilanggar.

“Bapak Menteri selalu memberikan arahan bahwa semua aturan harus diikuti, tetapi akselerasi tetap wajib dilakukan. Kita tidak boleh lambat, tidak boleh santai-santai. Bentuk nyatanya harus segera kelihatan di lapangan,” tegasnya. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah ingin mengombinasikan kecepatan gerak swasta dengan kepatuhan administrasi negara.

Berita Lainnya

Rupiah Terkapar di Angka Rp 17.600: Mengapa Klaim ‘Warga Desa Aman’ dari Dolar AS Sangat Berisiko?

Rupiah Terkapar di Angka Rp 17.600: Mengapa Klaim ‘Warga Desa Aman’ dari Dolar AS Sangat Berisiko?

Membangun Ekosistem Perunggasan yang Terintegrasi dari Hulu ke Hilir

Hilirisasi dalam konteks ini bukan sekadar membangun pabrik pengolahan, melainkan menciptakan sebuah ekosistem yang mandiri. Direktur Utama PT Berdikari, Maryadi, memaparkan bahwa visi besar perusahaan adalah membangun mata rantai yang kokoh dari hulu hingga hilir. Sejak tahun 2012, PT Berdikari memang telah memfokuskan diri pada sektor peternakan, namun di bawah kepemimpinan saat ini, fokus tersebut diperluas pada aspek integrasi.

Integrasi ini mencakup penyediaan pakan, pembibitan, manajemen budidaya, hingga pada proses pascapanen seperti rumah potong hewan unggas (RPHU) dan industri olahan daging ayam. Dengan rantai pasok yang terintegrasi, produktivitas nasional diyakini akan meningkat signifikan. Lebih dari itu, integrasi ini bertujuan untuk menciptakan stabilisasi harga yang selama ini kerap fluktuatif dan merugikan peternak rakyat maupun konsumen.

“Kami meyakini bahwa penguatan sektor peternakan adalah kunci mewujudkan swasembada protein hewani nasional. Saat rantai pasok dibangun secara terintegrasi, lapangan kerja akan terbuka luas, pendapatan masyarakat di daerah akan tumbuh, dan ekonomi regional akan bergerak lebih dinamis,” kata Maryadi optimis.

Enam Wilayah Strategis: Pusat Pertumbuhan Ekonomi Baru

Proyek ambisius ini tidak hanya berpusat di Pulau Jawa, melainkan menyebar ke enam wilayah strategis di Indonesia. Daerah-daerah yang terpilih meliputi Jawa Timur, Gorontalo, Lampung, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, dan Nusa Tenggara Barat (NTB). Pemilihan lokasi ini tentu didasarkan pada potensi geografis dan kebutuhan distribusi pangan di masing-masing wilayah.

Di wilayah-wilayah ini, industri pengolahan ayam terintegrasi akan dikembangkan secara masif. Kehadiran industri ini diharapkan mampu menyerap tenaga kerja lokal dalam jumlah besar dan memberikan nilai tambah pada produk-produk peternakan daerah. Selain itu, sebaran wilayah ini juga berfungsi sebagai instrumen pemerataan produksi antarwilayah, sehingga ketergantungan pada satu titik sentral produksi dapat dikurangi.

Program ini juga dirancang untuk menopang program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu pilar kebijakan pemerintahan saat ini. Dengan pasokan daging ayam dan telur yang terjamin dari produksi dalam negeri, keberlangsungan program sosial tersebut dapat lebih terjaga secara mandiri tanpa harus bergantung pada impor.

Dampak Sosial: Melindungi Peternak Rakyat sebagai Mitra Strategis

Salah satu poin krusial dalam proyek hilirisasi ini adalah keterlibatan peternak rakyat. Agung Suganda menekankan bahwa Kementerian Pertanian berkomitmen menjadikan peternak kecil sebagai mitra strategis, bukan sekadar objek dari ekspansi korporasi. Hilirisasi ini diharapkan memberikan kepastian pasar bagi hasil ternak mereka.

Selama ini, peternak mandiri seringkali menjadi pihak yang paling rentan terhadap guncangan harga jagung pakan maupun anjloknya harga ayam di tingkat kandang. Dengan adanya sistem hilirisasi yang terintegrasi, PT Berdikari dan mitra daerah dapat berfungsi sebagai penyangga (offtaker) yang menjamin harga kompetitif bagi peternak. Hal ini tidak hanya meningkatkan kesejahteraan individu, tetapi juga memperkuat ketahanan ekonomi di pedesaan.

“Hilirisasi ini adalah inisiatif langsung Bapak Menteri Pertanian sebagai langkah strategis negara untuk memastikan swasembada protein berjalan berkelanjutan dan berpihak pada rakyat kecil,” tambah Agung. Dengan demikian, target dividen untuk negara dan kesejahteraan karyawan perusahaan dapat berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi kerakyatan.

Menatap Masa Depan: Swasembada Protein sebagai Fondasi Generasi Emas

Upaya masif yang dilakukan melalui Prabowo Subianto dan jajaran kementeriannya ini merupakan investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia Indonesia. Swasembada protein hewani adalah fondasi utama untuk menciptakan generasi yang sehat, cerdas, dan kompetitif menuju visi Indonesia Emas 2045.

Dengan pengawasan ketat, integrasi hulu-hilir yang solid, dan pelibatan aktif pemerintah daerah serta peternak rakyat, proyek hilirisasi ayam ini diharapkan tidak hanya menjadi kesuksesan ekonomi, tetapi juga kemenangan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Waktu terus berjalan, dan seperti pesan yang ditekankan berulang kali: di bawah kepemimpinan saat ini, sektor pangan tidak boleh lagi berjalan di tempat, apalagi sekadar santai-santai.

Reporter Nasional

Reporter Nasional

Mengulas berita politik dan sosial dari berbagai daerah di Indonesia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *