Tensi Global Memuncak: Donald Trump Perintahkan Blokade Total Selat Hormuz Usai Perundingan Damai Buntu
LajuBerita — Eskalasi ketegangan di kawasan Teluk mencapai babak baru yang sangat krusial. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara mengejutkan mengumumkan langkah drastis dengan memerintahkan Angkatan Laut AS untuk memblokade total Selat Hormuz. Keputusan ini diambil sebagai reaksi keras setelah perundingan damai yang digelar di Islamabad, Pakistan, berakhir tanpa kesepakatan berarti antara Washington dan Teheran.
Melalui platform media sosial pribadinya, Truth Social, Trump menegaskan bahwa armada laut terbaik di dunia milik Amerika Serikat akan segera menutup akses keluar-masuk jalur pelayaran vital tersebut. “Mulai sekarang, Angkatan Laut Amerika Serikat akan memulai proses blokade terhadap seluruh kapal yang mencoba melintasi Selat Hormuz, baik yang masuk maupun keluar,” tulis Trump sebagaimana dikutip dari CNBC, Senin (13/4/2026).
Langkah Strategis Adaro Andalan (AADI): Siapkan Dana Jumbo Rp 5 Triliun demi Buyback Saham
Langkah Tegas Terhadap ‘Pemerasan’ Iran
Kebijakan agresif ini bukan tanpa alasan. Trump menuding Iran telah melakukan tindakan pemerasan ilegal terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi jalur tersebut. Ia menyatakan tidak akan membiarkan negara mana pun mengambil keuntungan secara sepihak dari krisis yang terjadi. Trump juga mengisyaratkan bahwa operasi ini akan melibatkan dukungan dari koalisi negara-negara sekutu lainnya.
Komando Pusat AS (U.S. Central Command/CENTCOM) telah memberikan rincian operasional terkait kebijakan ini. Militer AS dijadwalkan memulai blokade pada hari Senin pukul 10.00 pagi waktu setempat (ET). Meski demikian, CENTCOM menekankan bahwa blokade ini bersifat selektif dan terukur. Berikut adalah beberapa poin utama operasional blokade tersebut:
Langkah Tegas BEI: 18 Emiten Resmi Delisting per November 2026, Sritex Masuk Daftar
- Penyaringan ketat hanya diberlakukan bagi kapal yang menuju atau meninggalkan pelabuhan dan wilayah pesisir Iran di Teluk Arab serta Teluk Oman.
- Kapal-kapal komersial yang berlayar dari atau menuju pelabuhan non-Iran tetap diizinkan melintas secara bebas.
- Informasi navigasi tambahan akan diberikan kepada otoritas kapal komersial sebelum operasi penuh dimulai guna menghindari insiden salah sasaran.
Harapan Damai yang Sirna dan Dampak Ekonomi Global
Kegagalan negosiasi di Islamabad menjadi pemicu utama di balik sikap keras Washington. Sejatinya, publik internasional sempat menaruh harapan besar bahwa gencatan senjata atau kesepakatan damai permanen dapat tercapai. Namun, kebuntuan diplomasi justru melahirkan ancaman baru yang berpotensi memperburuk krisis ekonomi global yang tengah melanda dunia akibat peperangan.
Komitmen BNI dan Intervensi Sufmi Dasco: Akhir Bahagia Kasus Dana Gereja Aek Nabara Rp 28 Miliar
Trump berargumen bahwa Iran telah menyalahgunakan kontrol mereka atas Selat Hormuz untuk meraup keuntungan ekonomi di tengah penderitaan dunia. Salah satu pemicu kemarahan Gedung Putih adalah rencana Iran untuk memungut bea masuk ilegal bagi kapal-kapal yang melintas, dengan dalih adanya ancaman ranjau di perairan tersebut. “Ini adalah bentuk pemerasan terhadap dunia, dan Amerika Serikat tidak akan pernah bisa diperas,” tegas Trump dengan nada keras.
Ancaman Serangan Infrastruktur Vital
Tidak hanya berhenti pada blokade laut, ketegangan ini diprediksi akan semakin panas. LajuBerita memantau bahwa Trump dan para penasihat militernya tengah menimbang kemungkinan serangan militer terbatas. Langkah ini dirancang untuk memberikan tekanan psikologis dan fisik tambahan agar rezim Iran bersedia melunak di meja perundingan.
Serbu Promo Sepeda Transmart Full Day Sale: Diskon Fantastis Hingga Jutaan Rupiah
Donald Trump secara terbuka mengancam akan menyasar infrastruktur strategis milik Iran. “Saya sebenarnya tidak ingin melakukan ini, tetapi sumber air mereka, fasilitas desalinasi, hingga pembangkit listrik mereka adalah target yang sangat mudah untuk dilumpuhkan,” ungkapnya memperingatkan konsekuensi lebih lanjut jika Iran tetap bersikukuh pada posisinya.
Dengan berjalannya operasi Angkatan Laut AS untuk mencegat kapal-kapal yang membayar bea kepada Iran di perairan internasional, dunia kini menanti langkah balasan dari Teheran. Situasi di Selat Hormuz saat ini ibarat bom waktu yang siap meledak kapan saja, mengancam stabilitas energi dan keamanan maritim dunia secara keseluruhan.