Strategi Besar Danantara: Luncurkan DENERA untuk Transformasi Sampah Jadi Energi Listrik
LajuBerita — Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara menunjukkan keseriusannya dalam memperkuat sektor energi terbarukan di Indonesia. Melalui anak usahanya, PT Danantara Investment Management (DIM), mereka resmi memperkenalkan PT Daya Energi Bersih Nusantara (DENERA) sebagai entitas baru yang bakal fokus menyulap tumpukan sampah menjadi sumber energi listrik bernilai guna.
Langkah ini menandai babak baru dalam pengelolaan limbah nasional. DENERA, yang resmi didirikan pada 1 April 2026, akan menjadi ujung tombak dalam menjalankan program Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL). Kehadiran perusahaan ini bukan sekadar mengejar profit, melainkan solusi nyata atas krisis sampah yang kian mendesak.
Sinergi Investasi dan Tata Kelola Limbah
Director of Investments Danantara Investment Management, Fadli Rahman, mengungkapkan bahwa DENERA akan bertindak sebagai pengelola strategis dengan porsi kepemilikan saham sebesar 30% pada fasilitas PSEL. Sementara itu, mitra strategis yang digandeng akan memegang porsi saham sebesar 70%.
Komitmen Pembangunan Tak Boleh Libur, Kementerian PU Putuskan Tak Terapkan WFH di Hari Jumat
“Daya Energi Bersih Nusantara adalah manifestasi komitmen kami untuk menjalankan program pengolahan sampah yang berkelanjutan. Kami tidak hanya fokus pada output energi, tetapi juga pada perbaikan ekosistem pengelolaan sampah dari hulu ke hilir,” ujar Fadli dalam pertemuan Coffee Afternoon di Wisma Danantara, Jakarta.
Lebih jauh, DENERA mengemban misi besar untuk memperbaiki manajemen sampah di berbagai wilayah Indonesia. Mulai dari sistem pengumpulan hingga penerapan skema canggih seperti Depo Pengolahan Sampah Reduce (DPSR), Depo Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (DPS3R), hingga Depo Pengolahan Sampah Terpadu (DPST). Bahkan, ke depannya perusahaan ini berambisi menjangkau kategori sampah industri hingga limbah berbahaya.
Target Pembangunan di Tiga Titik Strategis
BPI Danantara telah menetapkan kalender kerja yang ambisius. Target pembangunan tiga hingga empat proyek Waste to Energy (WtE) dijadwalkan akan dimulai paling lambat pada Juli 2026. Fokus lokasi pembangunan mencakup wilayah Bekasi, Denpasar, dan Bogor yang dinilai memiliki urgensi tinggi dalam penanganan sampah.
Dilema Peternak Ayam Petelur: Harga Anjlok di Tengah Melambungnya Biaya Pakan, Program MBG Jadi Harapan
“Masa groundbreaking bisa dilakukan kapan saja antara April hingga Juni. Namun, yang terpenting adalah mulainya fase konstruksi fisik. Target kami, paling lambat akhir Juni atau awal Juli 2026 sudah mulai terbangun,” tegas Fadli saat memberikan keterangan di Graha Mandiri.
Optimisme Operasional pada 2027
Meski proyek infrastruktur skala besar seperti ini umumnya memakan waktu pengerjaan hingga dua tahun, beberapa lokasi diprediksi akan rampung lebih awal. Berkat komitmen kuat dari mitra kerja, proyek di Denpasar ditargetkan sudah bisa beroperasi secara komersial (COD) pada akhir 2027. Sementara untuk wilayah Bekasi, pengoperasian penuh diharapkan dapat tercapai pada awal 2028.
Inisiatif ini diharapkan mampu memberikan dampak ganda: mengurangi volume sampah yang menggunung di TPA sekaligus menyuplai pasokan energi listrik yang lebih ramah lingkungan bagi masyarakat sekitar.
Langkah Tegas Presiden Prabowo: Investigasi Total Kecelakaan Kereta Bekasi dan Komitmen Pembangunan Flyover