Trump Ultimatum Iran: Selat Hormuz Harus Terbuka Bebas Tanpa Biaya Tambahan

Reporter Nasional | LajuBerita
12 Apr 2026, 07:48 WIB
Trump Ultimatum Iran: Selat Hormuz Harus Terbuka Bebas Tanpa Biaya Tambahan

LajuBerita — Ketegangan di jalur nadi energi dunia kembali memanas setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan pernyataan tegas mengenai masa depan Selat Hormuz. Dalam keterangan terbarunya, Trump menyatakan bahwa blokade di wilayah strategis tersebut harus segera diakhiri dan menolak keras wacana Iran yang berniat memungut biaya lintas bagi kapal-kapal internasional.

Trump mengeklaim bahwa dirinya telah mengantongi dukungan dari sejumlah negara sekutu untuk memastikan jalur pelayaran tersebut kembali normal. Meski menyadari kompleksitas situasi di lapangan, sang presiden optimistis bahwa kebebasan navigasi akan segera pulih dalam waktu dekat. “Saya tegaskan satu hal: kami akan membukanya segera,” ujar Trump sebagaimana dilaporkan oleh AlJazeera pada Sabtu (11/4/2026).

Berita Lainnya

Guncangan di Lapangan Banteng: Purbaya Yudhi Sadewa Bongkar Sabotase Internal dan Hoaks Kas Negara

Guncangan di Lapangan Banteng: Purbaya Yudhi Sadewa Bongkar Sabotase Internal dan Hoaks Kas Negara

Penolakan Tegas Terhadap ‘Pajak’ Jalur Laut

Salah satu poin krusial yang memicu kemarahan Gedung Putih adalah rencana Iran yang ingin memberlakukan skema biaya keamanan bagi setiap kapal yang melintas. Iran berargumen bahwa pungutan tersebut diperlukan untuk menjamin keamanan kapal, bahkan jika kesepakatan damai dengan AS nantinya tercapai. Namun, Trump dengan tegas menutup pintu negosiasi terkait hal tersebut.

“Jika mereka mencoba melakukan itu (menarik biaya), kami tidak akan membiarkannya terjadi,” tegas Trump. Baginya, stabilitas kawasan bukan hanya soal pembukaan blokade, melainkan juga memastikan Teheran tidak memiliki akses terhadap senjata nuklir. Trump berkeyakinan bahwa jika isu nuklir dapat diselesaikan, maka dinamika di Selat Hormuz akan mencair dengan sendirinya.

Berita Lainnya

Bank Mandiri Tancap Gas: Penyaluran Kredit Tembus Rp 1.530 Triliun di Kuartal I 2026

Bank Mandiri Tancap Gas: Penyaluran Kredit Tembus Rp 1.530 Triliun di Kuartal I 2026

Lumpuhnya Arus Logistik dan Energi Global

Laporan tim lapangan menunjukkan bahwa kondisi di kawasan Teluk masih jauh dari kata stabil. Meski gencatan senjata dua minggu telah diumumkan, aktivitas pelayaran kapal komersial masih berada di titik nadir. Jalur yang biasanya menjadi perlintasan bagi 20 persen pasokan minyak dan gas dunia itu kini nyaris seperti kota mati di tengah laut.

Data statistik menunjukkan penurunan drastis: hanya ada dua kapal yang melintas pada hari Jumat, turun dari lima kapal pada hari sebelumnya. Sejak periode gencatan senjata dimulai, tercatat hanya 22 kapal yang berhasil keluar dari selat tersebut. Angka ini sangat kontras dengan rata-rata harian sebelum konflik yang mencapai 135 kapal per hari.

Berita Lainnya

Strategi Cerdas Mengatur Arus Kas Bulanan Agar Bebas Boncos dengan GoPay Later

Strategi Cerdas Mengatur Arus Kas Bulanan Agar Bebas Boncos dengan GoPay Later

Nasib Ratusan Kapal di Ujung Perundingan Islamabad

Hingga saat ini, lebih dari 600 kapal, termasuk 325 kapal tanker raksasa, dilaporkan masih tertahan dan terombang-ambing di kawasan Teluk akibat blokade tersebut. Kerugian ekonomi akibat kemacetan logistik ini diprediksi terus membengkak setiap harinya.

Kini, mata dunia tertuju pada pertemuan tingkat tinggi yang dijadwalkan berlangsung di Islamabad. Wakil Presiden AS, JD Vance, diagendakan bertemu langsung dengan Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf. Perundingan ini dipandang sebagai peluang terakhir untuk merumuskan formula perdamaian permanen guna mengakhiri ketegangan geopolitik yang telah mengguncang pasar energi global selama beberapa pekan terakhir.

Reporter Nasional

Reporter Nasional

Mengulas berita politik dan sosial dari berbagai daerah di Indonesia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *