Hujan Deras dan Luapan Kali Angke Rendam Pemukiman Bojong Kavling: Potret Perjuangan Warga Cengkareng di Tengah Banjir

Redaksi LajuBerita | LajuBerita
05 Mei 2026, 08:46 WIB
Hujan Deras dan Luapan Kali Angke Rendam Pemukiman Bojong Kavling: Potret Perjuangan Warga Cengkareng di Tengah Banjir

LajuBerita — Derasnya hujan yang mengguyur wilayah Ibu Kota sejak Senin malam tidak hanya menyisakan udara dingin, tetapi juga duka bagi warga di kawasan Bojong Kavling, Rawa Buaya, Cengkareng, Jakarta Barat. Ribuan pasang mata harus terjaga saat air perlahan merayap masuk ke dalam rumah, memaksa mereka bergelut dengan genangan yang merendam ruang tamu hingga dapur. Luapan Kali Angke yang tak lagi mampu menampung debit air kiriman menjadi dalang di balik terendamnya ratusan hunian di wilayah tersebut.

Pagi yang Kelabu di Bojong Kavling

Pagi yang seharusnya diawali dengan semangat beraktivitas justru berubah menjadi pemandangan penuh perjuangan. Berdasarkan pantauan tim di lapangan pada Selasa pagi, ketinggian air di kawasan RT 12 dan RT 16 RW 04 Rawa Buaya terpantau mencapai 50 hingga 60 sentimeter. Angka ini setara dengan paha orang dewasa, sebuah ketinggian yang cukup untuk melumpuhkan mobilitas kendaraan bermotor maupun pejalan kaki yang tidak waspada.

Berita Lainnya

Strategi Mendukbangga Tekan Angka Pernikahan Dini Lewat Pemerataan Akses Pendidikan

Strategi Mendukbangga Tekan Angka Pernikahan Dini Lewat Pemerataan Akses Pendidikan

Kondisi banjir Jakarta kali ini membuat jalanan pemukiman menyerupai sungai cokelat yang pekat. Warga yang hendak berangkat bekerja atau memulai rutinitas pagi terpaksa harus menerobos genangan air yang dingin. Tidak sedikit dari mereka yang menggulung celana tinggi-tinggi, sementara tas kerja diangkat di atas bahu agar tetap kering dari cipratan air yang kotor.

Potret Perjuangan Anak Sekolah dan Kesigapan Warga

Salah satu pemandangan yang paling menyentuh hati adalah perjuangan anak-anak sekolah. Demi menuntut ilmu, mereka harus rela digendong oleh orang tua masing-masing melewati genangan air yang cukup dalam agar seragam sekolah mereka tidak basah kuyup. Senyum tipis anak-anak itu di atas punggung sang ayah atau ibu menjadi kontras yang getir di tengah kepungan air yang mengepung tempat tinggal mereka.

Berita Lainnya

Membela ‘Nabi Perdamaian’: Presiden Iran dan Pemimpin Eropa Pasang Badan untuk Paus Leo XIV dari Serangan Trump

Membela ‘Nabi Perdamaian’: Presiden Iran dan Pemimpin Eropa Pasang Badan untuk Paus Leo XIV dari Serangan Trump

Meski rumah mereka sudah kemasukan air, mayoritas warga memilih untuk tetap bertahan. Mereka terlihat berjaga di lantai dua atau di area rumah yang lebih tinggi sembari terus memantau pergerakan air. Rasa khawatir akan adanya kenaikan debit air susulan menyelimuti pikiran mereka. Sebagian warga lainnya juga tampak sibuk mengamankan aset berharga mereka, terutama kendaraan roda dua. Mereka memindahkan motor-motor ke tempat yang lebih tinggi, seperti jembatan atau area publik yang belum terjamah air, demi menghindari risiko kerusakan mesin akibat mesin kemasukan air.

Kesaksian Warga: Kali Angke yang Tak Lagi Ramah

Sunaryo, salah satu warga terdampak yang ditemui di lokasi, menceritakan betapa cepatnya air naik. Ia mengonfirmasi bahwa hujan yang turun tanpa henti sejak Senin malam menjadi pemicu utama. Luapan Kali Angke yang melintasi kawasan tersebut langsung tumpah ke jalanan dan masuk ke rumah-rumah warga tanpa sempat dicegah.

Berita Lainnya

Menuju Usia 80 Tahun, Khofifah Ajak Muslimat NU Rawat Tradisi Gotong Royong dan Teduhkan Peradaban

Menuju Usia 80 Tahun, Khofifah Ajak Muslimat NU Rawat Tradisi Gotong Royong dan Teduhkan Peradaban

“Hujan deras semalam, Kali Angke naik drastis. Ini sudah seperti langganan di RT 12 dan RT 16 ini,” ujar Sunaryo dengan nada pasrah. Menurutnya, wilayah Bojong Kavling memang berada di titik yang rentan setiap kali cuaca ekstrem melanda Jakarta. Sistem drainase yang ada seolah tak berdaya ketika debit sungai mencapai titik puncaknya.

Data BPBD: Jakarta Dikepung Genangan di Berbagai Titik

Fenomena banjir di Bojong Kavling hanyalah satu dari sekian banyak titik yang tercatat oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta. Hingga Selasa pagi, BPBD mencatat ada setidaknya 115 Rukun Tetangga (RT) yang tersebar di wilayah Jakarta Barat, Jakarta Timur, dan Jakarta Selatan yang masih terendam air. Ketinggiannya pun bervariasi secara drastis, mulai dari 15 sentimeter hingga yang paling parah mencapai 2,4 meter.

Berita Lainnya

Drama Penalti di Metropolitano: Arsenal Tahan Imbang Atletico Madrid, Kepastian Final Ditentukan di Emirates

Drama Penalti di Metropolitano: Arsenal Tahan Imbang Atletico Madrid, Kepastian Final Ditentukan di Emirates

Marulitua Sijabat, Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta, menjelaskan bahwa kondisi ini merupakan dampak akumulatif dari tingginya curah hujan di hulu maupun lokal. Luapan tidak hanya terjadi pada Kali Angke, tetapi juga pada jajaran sungai besar lainnya seperti Kali Krukut, Kali Grogol, Kali Mampang, Kali Pesanggrahan, Kali Keuangan, hingga sungai legendaris Jakarta, Kali Ciliwung.

Kronologi Kenaikan Pintu Air yang Mengkhawatirkan

Skala bencana ini sebenarnya sudah terdeteksi melalui kenaikan status di sejumlah pintu air sejak Senin sore. Berdasarkan data teknis yang dihimpun, berikut adalah garis waktu kenaikan status siaga yang memicu genangan di pemukiman:

  • Pukul 16.00 WIB: Pos Pesanggrahan masuk ke Siaga 3.
  • Pukul 17.00 WIB: Pos Depok dan Pos Angke Hulu menyusul ke Siaga 3.
  • Pukul 18.00 WIB: Pos Angke Hulu naik status menjadi Siaga 2.
  • Pukul 19.00 WIB: Pintu Air Pasar Ikan menyentuh Siaga 2, sementara Pos Karet berada di Siaga 3.
  • Pukul 20.00 WIB: Puncak kekhawatiran terjadi saat Pos Angke Hulu menyentuh level Siaga 1, dibarengi dengan Siaga 3 di Pos Cipinang Hulu dan Pos Sunter Hulu.

Kenaikan status di Pos Angke Hulu yang mencapai Siaga 1 inilah yang secara langsung memberikan dampak besar bagi wilayah Cengkareng dan sekitarnya. Air kiriman dari hulu bertemu dengan hujan lokal di Jakarta, menciptakan tekanan debit yang luar biasa pada infrastruktur pengendali banjir di wilayah Rawa Buaya.

Dampak Luas di Luar Bojong Kavling

Selain merendam pemukiman, banjir Cengkareng dan wilayah lainnya juga melumpuhkan akses jalan. BPBD melaporkan ada empat ruas jalan utama di Jakarta Barat, Timur, dan Selatan yang tidak dapat dilalui kendaraan normal hingga Selasa pagi. Kemacetan panjang pun tak terelakkan di beberapa titik krusial seperti Simpang Hek di Jalan Raya Bogor, di mana luapan air mengganggu arus lalu lintas pagi yang padat.

BPBD DKI Jakarta terus mengimbau warga yang tinggal di bantaran sungai untuk tetap waspada. Langkah-langkah antisipasi seperti menyiapkan tas siaga bencana dan mematikan aliran listrik saat air masuk ke dalam rumah sangat disarankan untuk mencegah timbulnya korban jiwa atau kecelakaan listrik.

Menanti Solusi Permanen untuk Rawa Buaya

Kisah Sunaryo dan warga Bojong Kavling lainnya menjadi pengingat bahwa tantangan penanganan banjir di Jakarta masih jauh dari kata usai. Meskipun berbagai upaya normalisasi dan pembuatan waduk terus dilakukan, intensitas hujan yang kian tidak menentu akibat perubahan iklim menuntut kesigapan yang lebih tinggi baik dari pemerintah maupun masyarakat. Warga Rawa Buaya berharap agar proyek penanggulangan banjir di sepanjang aliran Kali Angke dapat segera diselesaikan secara menyeluruh, sehingga mereka tidak lagi harus menggendong anak-anak mereka menembus air setiap kali awan mendung menyelimuti langit Jakarta.

Untuk saat ini, warga hanya bisa bersabar sembari berharap matahari segera muncul dan air perlahan surut, mengembalikan kehangatan di rumah-rumah mereka yang kini dingin terendam banjir.

Redaksi LajuBerita

Redaksi LajuBerita

Tim redaksi LajuBerita mengkurasi dan menulis berita terbaru dari berbagai sumber terpercaya di Indonesia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *