Metamorfosis Desa Benteng: Jejak Inspiratif Agrowisata BRILiaN dalam Membangun Ekonomi Kerakyatan
LajuBerita — Terletak anggun di bawah bayang-bayang Gunung Kapur, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, sebuah desa kini tengah menjadi buah bibir dalam kancah nasional. Desa Benteng namanya. Jika ditarik mundur sepuluh tahun ke belakang, desa ini hanyalah sebuah titik sunyi di peta Jawa Barat yang jarang tersentuh perhatian publik. Namun hari ini, wajahnya telah berubah total menjadi episentrum wisata edukasi dan agrowisata yang mandiri serta berdaya saing global.
Transformasi luar biasa ini bukanlah sebuah kebetulan yang jatuh dari langit. Ia adalah buah dari sinergi apik antara visi kepemimpinan lokal yang progresif dengan dukungan strategis melalui program pemberdayaan Desa BRILiaN. Dengan luas wilayah mencapai 248,5 hektare, di mana 82 hektare di antaranya merupakan hamparan sawah yang subur, Desa Benteng berhasil membuktikan bahwa tanah kelahiran bisa menjadi ladang kesejahteraan jika dikelola dengan hati dan strategi yang matang.
Misi Kemandirian Aspal: Menteri PU Pacu Penggunaan Asbuton Lewat Skema A30 untuk Tekan Impor
Visi Sang Nakhoda dan Kebangkitan dari Keterpurukan
Di balik gemilangnya pencapaian Desa Benteng, terdapat sosok-sosok visioner yang menjadi motor penggerak. Wahyu Syarief Hidayat, atau yang akrab disapa Kang Wahyu, kini menjabat sebagai Ketua Unit Pengelola Desa Wisata Benteng. Langkahnya membangun desa bermula dari sebuah perjumpaan bermakna dengan Faka Harika, Kepala Desa Benteng periode 2014-2020 yang juga seorang mantan pelaut dengan pengalaman melanglang buana ke mancanegara.
Kang Wahyu sendiri membawa narasi perjuangan yang emosional. Sebelum mendedikasikan hidupnya untuk desa, ia adalah seorang pedagang pakaian di Pasar Leuwiliang yang terpaksa gulung tikar akibat hantaman tren belanja daring pada 2018. Namun, kegagalan bisnis tersebut justru menjadi pintu gerbang menuju pengabdian yang lebih besar. Diajak oleh Faka Harika untuk membenahi ekonomi desa, Wahyu pun menerima tantangan tersebut dan mulai memimpin Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
Strategi Agresif OJK Kejar Target Kredit 12 Persen di 2026: Fokus UMKM hingga Program Strategis Pemerintah
Konsep yang diusung sangat jelas: edu-agrotourism. Desa Benteng tidak ingin hanya sekadar menjual pemandangan, melainkan ingin menawarkan pengalaman belajar bagi para pengunjung tentang bagaimana dunia pertanian bekerja dan menjadi nadi kehidupan.
Desa BRILiaN: Katalisator Perubahan di Tengah Pandemi
Titik balik krusial terjadi pada tahun 2020, saat pandemi COVID-19 melumpuhkan banyak sektor ekonomi. Di tengah ketidakpastian tersebut, ketahanan pangan muncul sebagai isu strategis. Desa Benteng merespons tantangan ini dengan bergabung dalam program Desa BRILiaN yang diinisiasi oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero). Selama tiga bulan, di tengah keterbatasan mobilitas, para penggerak desa mengikuti pelatihan intensif secara daring.
Pihak desa melibatkan berbagai elemen masyarakat, mulai dari kelompok tani (gapoktan), pelaku UMKM lokal, hingga tokoh masyarakat. Mereka tidak hanya belajar tentang manajemen keuangan, tetapi juga tentang cara mengemas potensi desa menjadi produk wisata yang bernilai jual tinggi. Hasil dari konsistensi ini membuahkan hasil manis ketika pada tahun 2022, Desa Benteng secara resmi dinobatkan sebagai salah satu dari lima desa terbaik dalam anugerah Desa BRILiaN.
Rupiah Kian Terjepit, Dolar AS Tembus Rekor Baru Rp 17.134 di Perdagangan Pagi
Mahakarya Lokal: Dari Kampung Cassava hingga Jambu Kristal
Salah satu ikon yang menjadi kebanggaan adalah Kampung Cassava. Melalui tangan dingin para petani, singkong yang dulunya hanya dijual sebagai bahan mentah kini diolah menjadi tepung mokaf berkualitas tinggi. Inovasi ini secara otomatis meningkatkan nilai tambah produk dan memberikan keuntungan lebih bagi para petani. Wisatawan yang berkunjung tidak hanya bisa melihat kebun, tetapi juga belajar proses pengolahan pangan berkelanjutan.
Tak kalah menarik adalah kebun Jambu Kristal yang dikelola oleh Kelompok Tani Cahaya Tani. Di sini, pengunjung bisa merasakan sensasi menjadi petani dalam sehari melalui aktivitas:
- Belajar teknik mencangkok pohon jambu yang efektif.
- Memahami cara budidaya buah berkualitas ekspor.
- Memetik langsung buah jambu kristal segar dari pohonnya.
- Berdiskusi langsung dengan para praktisi pertanian lapangan.
Kehadiran wisatawan ini memberikan efek domino yang luar biasa. Warung-warung kecil, pengrajin batik Ciwitan, hingga produsen susu kedelai seperti Rumah Kedelai Pak Mien Soya Ayu, semuanya merasakan lonjakan permintaan. Ini adalah bukti nyata bagaimana agrowisata mampu menghidupkan ekosistem ekonomi secara menyeluruh.
Analisis Harga Emas Antam Hari Ini: Koreksi Tipis di Tengah Fluktuasi Pasar Global, Saatnya Beli atau Jual?
Dana Hibah Rp 1 Miliar dan Pembangunan Berkelanjutan
Kepercayaan BRI terhadap potensi Desa Benteng semakin menguat pada tahun 2023 dengan kucuran dana hibah sebesar Rp 1 miliar. Dana ini dikelola secara transparan melalui rapat besar yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat guna menampung aspirasi kebutuhan infrastruktur wisata.
Kini, fasilitas di Desa Benteng telah bertransformasi secara signifikan. Beberapa perbaikan yang dilakukan antara lain:
- Pembangunan gapura tematik yang memperkuat identitas tiap RW sebagai kampung wisata.
- Penyediaan jalan paving block di area perkebunan untuk kenyamanan pengunjung.
- Pembangunan spot foto artistik dan Instagrammable yang menarik minat generasi muda.
- Pengembangan fasilitas wisata sungai Benteng River Tubing yang memacu adrenalin.
- Peningkatan sarana di Taman Desa Benteng sebagai ruang publik yang asri.
Menariknya, para petani jambu kristal kini tidak perlu lagi bersusah payah membawa hasil panen ke pasar induk. Permintaan dari wisatawan yang datang setiap akhir pekan sudah lebih dari cukup untuk menyerap seluruh hasil panen mereka dengan harga yang jauh lebih kompetitif.
Prestasi Internasional dan Pengakuan Global
Keberhasilan Desa Benteng tidak hanya menggema di dalam negeri. Desa ini telah menjadi destinasi studi banding bagi berbagai delegasi internasional. Mulai dari akademisi asal Jepang dan Kanada, pejabat kementerian dari Malaysia, hingga bankir dari Peru dan Amerika Latin telah menginjakkan kaki di tanah Benteng untuk mempelajari formula sukses pembangunan desa mandiri.
Di tingkat nasional, sederet penghargaan terus mengalir. Pada tahun 2024, Desa Benteng berhasil menembus jajaran 500 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) dari ribuan peserta di seluruh Nusantara. Selain itu, prestasi sebagai Desa Sejahtera dan predikat terbaik dalam pengelolaan Bank Sampah menunjukkan bahwa kemajuan ekonomi di sini tetap berjalan selaras dengan pelestarian lingkungan.
Masa Depan Cerah dalam Dekapan Sinergi
Sejauh ini, Desa Benteng telah mengaktifkan lebih dari 15 titik wisata edukasi yang beragam. Mulai dari budidaya lele bioflok, kerajinan Eco Print Lawon Geulis, hingga sanggar seni tradisional Wayang Golek Sekar Giri Cempa. Keragaman ini memastikan bahwa setiap sudut desa memiliki cerita dan daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang berbeda minat.
Kehadiran BRI melalui program Desa BRILiaN diakui Kang Wahyu telah memberikan dampak psikologis yang besar. Masyarakat kini lebih percaya diri dan merasa dihargai. BUMDes bukan lagi sekadar nama di papan kantor desa, melainkan jantung yang memompa harapan baru bagi setiap warga.
Kisah Desa Benteng adalah pengingat bagi kita semua bahwa kemandirian bangsa dimulai dari desa. Dengan kreativitas, kolaborasi, dan dukungan lembaga keuangan yang peduli seperti BRI, potensi terpendam di pelosok negeri dapat bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi yang mendunia. Desa Benteng kini bukan lagi sekadar desa di kaki gunung, melainkan mercusuar inspirasi bagi ribuan desa lainnya di Indonesia.