Bukan Subur Malah Berbahaya: Mengapa Paracetamol pada Tanaman Cabai Menjadi Ancaman Serius bagi Kesehatan dan Lingkungan

Reporter Nasional | LajuBerita
19 Jun 2026, 12:53 WIB
Bukan Subur Malah Berbahaya: Mengapa Paracetamol pada Tanaman Cabai Menjadi Ancaman Serius bagi Kesehatan dan Lingkungan

LajuBerita — Jagat media sosial baru-baru ini dihebohkan oleh sebuah tren yang sangat tidak biasa sekaligus mengkhawatirkan di kalangan petani. Sebuah video pendek memperlihatkan seorang petani cabai yang dengan bangga memamerkan ‘rahasia’ di balik kesuburan tanamannya: penggunaan paracetamol dan vitamin B kompleks. Meski sekilas tampak membuahkan hasil dengan hamparan kebun yang hijau royo-royo, praktik ini justru memicu alarm peringatan keras dari otoritas terkait. Fenomena ini bukan sekadar inovasi kreatif, melainkan sebuah risiko besar yang mengintai rantai pangan nasional.

Alarm dari Kementerian Pertanian: Risiko di Balik Efek ‘Instan’

Menanggapi viralnya aksi tersebut, Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Muhammad Agung Sunusi, secara tegas memberikan peringatan mengenai bahaya laten yang tersembunyi. Agung menyatakan bahwa hingga saat ini, belum ada satupun kajian ilmiah resmi di Indonesia yang merekomendasikan obat-obatan farmasi manusia seperti paracetamol sebagai sarana produksi pertanian. Penggunaan bahan kimia non-pertanian ini dilakukan tanpa dasar akademis dan pengawasan yang jelas, sehingga potensi kerusakannya jauh lebih besar daripada manfaat sesaat yang dirasakan petani.

Berita Lainnya

Pemerintah Siap Bidik Rp 12 Triliun dari Lelang Sukuk Negara, Green Sukuk Kembali Jadi Andalan

Pemerintah Siap Bidik Rp 12 Triliun dari Lelang Sukuk Negara, Green Sukuk Kembali Jadi Andalan

Agung menekankan bahwa tanaman cabai yang tampak subur setelah diberi asupan obat manusia tidak serta merta aman untuk dikonsumsi. Ada perbedaan mendasar antara metabolisme tubuh manusia dengan fisiologi tumbuhan. Apa yang dianggap obat bagi manusia bisa menjadi racun atau polutan bagi lingkungan tanah dan ekosistem mikroorganisme yang hidup di dalamnya. Tanaman cabai yang dipaksa tumbuh dengan stimulasi kimiawi yang salah berisiko membawa dampak jangka panjang yang merugikan semua pihak.

Lima Risiko Utama yang Mengintai

LajuBerita merangkum setidaknya ada lima risiko fatal yang disorot oleh Kementan terkait praktik penggunaan paracetamol ini. Pertama, munculnya residu senyawa farmasi pada lingkungan. Ketika paracetamol digunakan secara berlebihan dan terus-menerus, sisa-sisa bahan kimia tersebut tidak akan hilang begitu saja. Residu ini dapat meresap ke dalam tanah, mencemari sumber air tanah, dan pada akhirnya masuk ke dalam rantai pangan manusia melalui hasil panen yang dikonsumsi.

Berita Lainnya

Diplomasi Energi di Beijing: Donald Trump Klaim China Siap Borong Minyak AS Demi Hindari Konflik Timur Tengah

Diplomasi Energi di Beijing: Donald Trump Klaim China Siap Borong Minyak AS Demi Hindari Konflik Timur Tengah

Kedua, terganggunya keseimbangan mikroorganisme tanah. Tanah yang sehat adalah tanah yang kaya akan bakteri dan fungi baik yang membantu proses dekomposisi dan penyerapan nutrisi secara alami. Pemberian zat kimia asing seperti paracetamol dapat membunuh mikroorganisme bermanfaat ini, yang dalam jangka panjang akan membuat tanah menjadi ‘mati’ dan tidak subur lagi secara alami. Dampaknya, petani akan semakin tergantung pada asupan kimia buatan yang merusak ekosistem pertanian.

Ketiga, risiko pemborosan biaya produksi. Meski harga paracetamol atau vitamin B kompleks mungkin terlihat murah, efektivitasnya dalam jangka panjang belum teruji secara ilmiah. Tanpa hasil panen yang konsisten dan berkualitas, uang yang dikeluarkan petani untuk membeli obat-obatan manusia ini justru menjadi sia-sia. Keempat, terciptanya persepsi keliru di tengah masyarakat. Tren viral ini bisa menyesatkan petani lain untuk meninggalkan input pertanian resmi yang sudah melewati uji registrasi dan keamanan yang ketat.

Berita Lainnya

BEI Soroti Dominasi Saham di 9 Emiten Raksasa, Instruksi Benahi Struktur Kepemilikan Segera Dirilis

BEI Soroti Dominasi Saham di 9 Emiten Raksasa, Instruksi Benahi Struktur Kepemilikan Segera Dirilis

Tanaman Bisa ‘Menyerap’ Paracetamol ke Dalam Jaringan

Risiko kelima yang paling mengkhawatirkan adalah kemampuan tanaman untuk mengakumulasikan senyawa farmasi. Mengutip beberapa penelitian internasional, Agung menjelaskan bahwa tanaman memiliki potensi untuk menyerap paracetamol dari media tanam ke dalam jaringan tubuhnya. “Tanaman dapat menyerap paracetamol dan mengakumulasikannya pada jaringan tanaman dalam kondisi tertentu,” ungkapnya. Artinya, zat kimia tersebut tidak hanya menempel di kulit luar cabai, tapi menyatu dalam daging buahnya.

Meskipun penelitian ini sebagian besar masih dilakukan dalam skala laboratorium, temuan ini menjadi landasan kuat mengapa kehati-hatian harus diutamakan. Penggunaan senyawa farmasi pada tanaman pangan tanpa kendali dapat menyebabkan konsumen terpapar zat-zat yang tidak seharusnya mereka konsumsi melalui makanan sehari-hari. Hal ini tentu saja mengancam standar keamanan pangan yang selama ini diperjuangkan oleh pemerintah.

Berita Lainnya

Rupiah Terhimpit di Level Rp 17.500: Menanti Langkah Strategis Pemerintah Pulihkan Kepercayaan Pasar

Rupiah Terhimpit di Level Rp 17.500: Menanti Langkah Strategis Pemerintah Pulihkan Kepercayaan Pasar

Dilema Petani: Tekanan Ekonomi dan Pencarian Alternatif Murah

LajuBerita melihat fenomena ini tidak lepas dari tekanan ekonomi yang dirasakan para petani di lapangan. Kenaikan harga pupuk dan pestisida, ditambah dengan fluktuasi nilai tukar rupiah yang berdampak pada harga sarana produksi impor, memaksa petani untuk memutar otak. Dalam video yang viral tersebut, sang petani secara eksplisit menyebutkan bahwa penggunaan obat-obatan ini adalah bentuk siasat menghadapi pelemahan rupiah yang membuat biaya operasional membengkak.

Namun, mencari jalan pintas dengan menggunakan obat manusia adalah solusi yang semu. Tanpa rekomendasi resmi, petani sebenarnya sedang melakukan pertaruhan besar terhadap keberlangsungan lahan mereka sendiri. Kementan menegaskan bahwa pendekatan budidaya yang paling aman dan berkelanjutan tetaplah mengacu pada Good Agricultural Practices (GAP). GAP adalah standar global yang memastikan proses produksi pertanian aman bagi lingkungan, petani, dan konsumen akhir.

Langkah Antisipasi dan Literasi Digital bagi Petani

Untuk memutus rantai penyebaran tren berbahaya ini, Kementan tidak tinggal diam. Agung memastikan bahwa pengawasan di lapangan akan ditingkatkan melalui kegiatan penyuluhan dan pendampingan. Edukasi mengenai penggunaan pupuk, pestisida, dan Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) yang memiliki izin edar resmi menjadi prioritas utama. Bahan-bahan yang telah terdaftar di kementerian telah melalui serangkaian uji keamanan dan efektivitas yang panjang, sehingga jauh lebih terjamin mutunya.

Selain itu, koordinasi dengan Dinas Pertanian di daerah terus diperkuat untuk memantau praktik budidaya di wilayah binaan. Literasi digital juga menjadi kunci penting. Para petani diimbau agar tidak mudah tergiur oleh konten-konten media sosial yang menjanjikan hasil instan tanpa bukti ilmiah yang kuat. “Kami berkoordinasi dengan dinas daerah untuk meningkatkan literasi petani agar tidak mudah mengikuti praktik yang belum terbukti secara ilmiah,” tambah Agung.

Kesimpulan: Keamanan Pangan Adalah Tanggung Jawab Bersama

Praktik memberikan paracetamol pada tanaman cabai mungkin terlihat sebagai ‘keajaiban’ bagi sebagian orang, namun bagi dunia kesehatan dan pertanian, ini adalah sebuah langkah mundur. Keamanan pangan nasional tidak boleh dikorbankan demi efisiensi biaya yang tidak terukur. Penting bagi konsumen untuk tetap kritis terhadap asal-usul bahan pangan yang mereka beli, dan bagi petani untuk tetap setia pada jalur budidaya yang bertanggung jawab.

Sebagai penutup, Kementan mengingatkan bahwa lingkungan pertanian yang sehat adalah aset masa depan. Penggunaan bahan-bahan yang tidak sesuai peruntukannya hanya akan meninggalkan warisan kerusakan tanah bagi generasi mendatang. Mari kita dukung para petani Indonesia untuk beralih kembali ke praktik pertanian yang sehat, aman, dan berkelanjutan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.

Reporter Nasional

Reporter Nasional

Mengulas berita politik dan sosial dari berbagai daerah di Indonesia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *