Diplomasi Ekonomi di Nankai: Menkeu Purbaya Beberkan Rahasia Indonesia Tumbuh 5,61 Persen di Hadapan Akademisi China
LajuBerita — Di tengah dinamika geopolitik dan fluktuasi pasar global yang tak menentu, Indonesia justru muncul sebagai mercusuar pertumbuhan di kawasan Asia Tenggara. Hal ini ditegaskan secara gamblang oleh Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, saat memberikan kuliah umum di hadapan ratusan akademisi dan mahasiswa di Nankai University, Tianjin, China. Dalam kunjungan diplomatik yang sarat akan pertukaran gagasan tersebut, Purbaya memamerkan performa gemilang ekonomi domestik yang tumbuh solid di angka 5,61 persen pada Kuartal I-2026.
Kehadiran Purbaya di salah satu universitas paling prestisius di Negeri Tirai Bambu tersebut disambut hangat oleh jajaran petinggi kampus, mulai dari Rektor Nankai University President Chen Yulu, Wakil Rektor Eksekutif Chen Jun, hingga Profesor Xingmin Li. Pertemuan ini bukan sekadar seremoni akademik biasa, melainkan sebuah panggung bagi Indonesia untuk menunjukkan kepada dunia, khususnya komunitas intelektual China, bahwa strategi ekonomi Jakarta saat ini berada di jalur yang sangat tepat.
DJP Bidik Wajib Pajak ‘Nakal’: Audit Ketat Peserta Tax Amnesty Jilid II yang Sembunyikan Harta
Panggung Indonesia di Nankai University: Mempererat Hubungan Bilateral
Dalam sambutannya, Purbaya mengungkapkan rasa hormatnya bisa berbagi perspektif mengenai manajemen makroekonomi di Nankai. Ia menekankan bahwa dialog semacam ini krusial untuk memperdalam pemahaman bersama antara dua negara besar di Asia. Menurut laporan tim LajuBerita di lokasi, suasana aula utama Nankai University tampak penuh sesak oleh mahasiswa yang antusias menyimak bagaimana sebuah negara berkembang mampu menavigasi krisis dengan begitu elegan.
“Kehormatan besar bagi saya untuk berada di sini. Hari ini, dengan sukacita saya membagikan perspektif Indonesia mengenai kebijakan ekonomi, manajemen fiskal, serta pembangunan nasional yang berkelanjutan,” ujar Purbaya. Ia meyakini bahwa pertukaran akademik ini akan menjadi jembatan yang memperkokoh persahabatan serta membuka ruang kolaborasi baru di sektor investasi dan riset ekonomi antara Indonesia dan Tiongkok.
Aksi Korporasi di Tengah Gejolak IHSG: RAJA Siap Stock Split Saat GIAA Mulai Pangkas Rugi
Pertumbuhan 5,61 Persen: Indonesia Melampaui Rata-Rata G20
Purbaya memaparkan data yang cukup mengejutkan bagi audiens internasional. Di saat banyak negara maju masih tertatih-tatih melawan ancaman resesi, ekonomi Indonesia justru melonjak. Realisasi pertumbuhan sebesar 5,61 persen secara tahunan (year-on-year) pada awal 2026 menjadi bukti nyata ketangguhan struktur ekonomi kita. Angka ini secara signifikan menempatkan Indonesia di atas rata-rata pertumbuhan negara-negara anggota G20 dan tetangga di kawasan ASEAN.
Keberhasilan ini, menurut Purbaya, tidak datang dari ruang hampa. Ada kombinasi apik antara konsumsi domestik yang kuat, belanja pemerintah yang efektif, serta kebijakan fiskal yang sangat sehat. Defisit anggaran yang terus dijaga di bawah ambang batas 3 persen sesuai amanat undang-undang menjadi jangkar kepercayaan bagi para investor global.
Tembus Pasar Jerman, Kelapa Parut Gorontalo Jadi Bukti Nyata Keberhasilan Hilirisasi Daerah
Stabilitas Harga dan Kendali Inflasi yang Mumpuni
Salah satu poin krusial yang diangkat adalah kemampuan pemerintah dalam menjinakkan inflasi. Di saat dunia dihantui oleh lonjakan harga komoditas, Indonesia berhasil menjaga tingkat inflasi di level 3,08 persen per Mei 2026. Stabilitas harga ini merupakan faktor kunci yang menjaga daya beli masyarakat tetap terjaga, sehingga roda ekonomi tetap berputar kencang.
“Indonesia terus tampil menonjol. Di saat yang sama, kami mempertahankan stabilitas harga dengan inflasi yang terkendali. Perkembangan ini membuktikan bahwa Indonesia memasuki periode ini dengan ketahanan kebijakan yang kredibel,” tegas Purbaya di mimbar Nankai.
Ketahanan Energi: Indonesia Berani Bersaing dengan China
Satu fakta menarik yang diungkapkan Purbaya adalah mengenai skor ketahanan energi global. Berdasarkan analisis risiko terbaru, Indonesia berada pada kuadran eksposur rendah dengan penahan (buffer) yang sangat kuat. Skor ketahanan energi Indonesia mencapai 77 persen, angka yang mengejutkan karena berada satu poin di atas China yang mencatatkan skor 76 persen. Indonesia hanya kalah tipis dari Afrika Selatan yang meraih skor 79 persen.
Kisah Inspiratif Pempek Rafi 81: Menaklukkan Jakarta Lewat Kelezatan Otentik Palembang dan Digitalisasi UMKM
Ketangguhan ini memberikan ruang bagi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk berfungsi sebagai shock absorber. Artinya, ketika terjadi gejolak harga energi atau pangan di pasar internasional, APBN mampu meredam dampaknya agar tidak langsung menghantam rakyat kecil, tanpa mengorbankan kesehatan finansial negara.
Indikator Sektor Riil yang Kian Bertenaga
Tidak hanya bicara soal angka makro, Purbaya juga menyodorkan fakta-fakta dari sektor riil yang menunjukkan betapa bergairahnya aktivitas ekonomi di tanah air. Beberapa indikator utama yang disebutkannya antara lain:
- Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur: Tetap berada di level ekspansif 50,0, menandakan sektor industri terus berproduksi dan melakukan pengadaan barang.
- Likuiditas Perekonomian (M0): Tumbuh sebesar 14,8 persen yoy, mencerminkan ketersediaan uang beredar yang cukup untuk menggerakkan transaksi.
- Pertumbuhan Kredit Perbankan: Melesat hingga 11,5 persen yoy, membuktikan bahwa sektor perbankan sangat percaya diri dalam menyalurkan pembiayaan ke dunia usaha.
- Surplus Neraca Perdagangan: Indonesia mencatatkan rekor luar biasa dengan surplus selama 72 bulan berturut-turut.
Cadangan devisa Indonesia pun terpantau sangat “gemuk” di angka USD 144,9 miliar. Jumlah ini setara dengan 5,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, sebuah posisi yang sangat aman untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dari spekulasi pasar.
Kesejahteraan Rakyat Sebagai Muara Akhir
Bagi pemerintah, pertumbuhan ekonomi setinggi apa pun tidak akan berarti jika tidak dirasakan oleh masyarakat luas. Purbaya menekankan bahwa pertumbuhan 5,61 persen ini telah ditranslasikan ke dalam penciptaan lapangan kerja secara masif. Tercatat ada sekitar 1,9 juta lapangan kerja baru yang tercipta, yang secara otomatis menekan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menjadi 4,68 persen pada tahun 2026.
Selain itu, efektivitas program sosial juga membuahkan hasil nyata. Angka kemiskinan terus merosot dari 8,57 persen pada September 2024 menjadi 8,25 persen pada September 2025. Hal ini menunjukkan bahwa strategi pembangunan yang dijalankan bersifat inklusif, menyentuh hingga lapisan masyarakat terbawah.
Menatap Masa Depan: 8 Klaster Prioritas Nasional
Menutup paparannya, Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa Indonesia tidak akan berhenti di sini. Pemerintah telah menyiapkan 8 klaster program kerja prioritas yang akan menjadi mesin pertumbuhan baru di masa depan. Fokus utamanya mencakup:
- Kedaulatan pangan untuk kemandirian bangsa.
- Kemandirian energi dan akses air bersih.
- Peningkatan kualitas pendidikan dan layanan kesehatan.
- Pembangunan infrastruktur yang terintegrasi.
- Penyediaan perumahan rakyat yang layak.
- Ketangguhan dalam menghadapi bencana.
- Hilirisasi industri untuk meningkatkan nilai tambah komoditas.
- Digitalisasi birokrasi dan diplomasi ekonomi yang agresif.
Dengan segala pencapaian dan rencana strategis tersebut, Purbaya optimis bahwa Indonesia akan terus menjadi pemain kunci dalam ekonomi global. Pesan kuat yang dibawa dari Nankai University ini adalah sebuah sinyal bahwa Indonesia bukan lagi sekadar pasar, melainkan kekuatan ekonomi baru yang tangguh, kredibel, dan siap berkolaborasi di panggung dunia.