Kisah Inspiratif Pempek Rafi 81: Menaklukkan Jakarta Lewat Kelezatan Otentik Palembang dan Digitalisasi UMKM

Reporter Nasional | LajuBerita
22 Jun 2026, 00:48 WIB
Kisah Inspiratif Pempek Rafi 81: Menaklukkan Jakarta Lewat Kelezatan Otentik Palembang dan Digitalisasi UMKM

LajuBerita — Jakarta sering kali dianggap sebagai rimba beton yang keras bagi para perantau. Namun, bagi Nyayu Maryati, ibu kota adalah lahan subur untuk menanam benih harapan melalui aroma gurih ikan tenggiri dan pedasnya kuah cuko. Sejak menginjakkan kaki di Jakarta pada tahun 2010, perempuan asal Palembang ini tidak pernah menyangka bahwa kerinduannya pada cita rasa kampung halaman akan membawanya menjadi salah satu pelaku UMKM sukses yang diperhitungkan di kancah bazar ibu kota.

Perjalanan Nyayu membangun jenama Pempek Rafi 81 bukanlah sebuah dongeng yang instan. Ia harus melewati jalan berliku, mulai dari krisis finansial keluarga hingga tantangan menyesuaikan lidah masyarakat Jakarta yang memiliki selera beragam. Kini, usahanya bukan sekadar tentang berjualan makanan, melainkan tentang dedikasi menjaga warisan kuliner Palembang tetap otentik di tengah gempuran tren makanan kekinian.

Berita Lainnya

Sengkarut Izin Lahan KIT Batang: Ironi Investasi yang Terganjal Hak Guna Bangunan

Sengkarut Izin Lahan KIT Batang: Ironi Investasi yang Terganjal Hak Guna Bangunan

Titik Balik dari Krisis Finansial Keluarga

Momen krusial itu terjadi pada pertengahan tahun 2014. Setelah empat tahun menetap di Jakarta, keluarga Nyayu dihadapkan pada situasi sulit ketika suaminya memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya. Tanpa pemasukan tetap selama berbulan-bulan, tabungan mereka kian menipis. Di tengah himpitan ekonomi tersebut, naluri kewirausahaan Nyayu bangkit.

“Antara Juli sampai Desember 2014, kami benar-benar tidak punya penghasilan. Saya kemudian memberanikan diri bicara ke suami, bagaimana kalau kita mencoba peruntungan dengan membuka usaha pempek,” kenang Nyayu saat berbincang dengan tim LajuBerita dalam sebuah gelaran bazar di Universitas Sahid, Jakarta Selatan.

Ide ini tidak muncul begitu saja. Sebagai orang asli Palembang, Nyayu sering merasa kecewa saat mencoba pempek yang dijajakan di Jakarta. Menurutnya, pempek pinggiran jalan sering kali kurang terasa ikannya, sementara pempek yang berkualitas tinggi biasanya hanya ditemukan di restoran mahal dengan harga yang sulit dijangkau semua kalangan. Celah pasar inilah yang kemudian ia bidik: menyajikan pempek berkualitas premium namun dengan harga yang tetap merakyat.

Berita Lainnya

Misi Besar PT Danantara Sumberdaya Indonesia: BUMN Ekspor Baru yang Berambisi Sapu Bersih Praktik Curang Komoditas

Misi Besar PT Danantara Sumberdaya Indonesia: BUMN Ekspor Baru yang Berambisi Sapu Bersih Praktik Curang Komoditas

Filosofi di Balik Nama Pempek Rafi 81

Dengan modal awal yang sangat terbatas, yakni hanya Rp 2 juta, Nyayu memulai langkah pertamanya. Ia menyewa sebuah kios kecil sederhana dengan pintu rolling door. Di sanalah nama “Pempek Rafi 81” pertama kali terpampang. Nama tersebut bukan sekadar label, melainkan doa yang dipanjatkan oleh Nyayu dan suaminya.

“Rafi” diambil dari nama putra sulung mereka yang berarti ‘meninggikan’ atau ‘derajat yang tinggi’. Sementara angka “81” diambil dari tanggal dan bulan lahir sang suami, yakni 8 Januari. Secara simbolis, angka 8 melambangkan keberuntungan yang tidak pernah putus, sedangkan angka 1 diharapkan membawa usaha ini menjadi yang nomor satu. Jika dijumlahkan, 8 dan 1 menghasilkan angka 9, yang dalam banyak kepercayaan dianggap sebagai simbol kesempurnaan.

Berita Lainnya

Guncangan di Lapangan Banteng: Purbaya Yudhi Sadewa Bongkar Sabotase Internal dan Hoaks Kas Negara

Guncangan di Lapangan Banteng: Purbaya Yudhi Sadewa Bongkar Sabotase Internal dan Hoaks Kas Negara

Strategi Menaklukkan Lidah Jakarta yang Sensitif

Tantangan terbesar yang dihadapi Nyayu di awal usahanya adalah perbedaan preferensi rasa. Masyarakat Jakarta, menurut pengamatannya, cenderung sensitif terhadap aroma ikan yang terlalu menyengat. Sebagai langkah awal, Nyayu melakukan strategi kompromi rasa agar produknya bisa diterima pasar secara luas.

“Awalnya, saya tidak membuat yang terlalu ‘ikan banget’. Saya melihat pasar Jakarta agak kurang suka aroma yang terlalu amis. Jadi, saya buat komposisi tepung dan ikan yang seimbang, satu banding satu. Alhamdulillah, strategi itu berhasil menarik minat pelanggan awal,” jelasnya. Ini merupakan bagian dari strategi bisnis yang fleksibel dalam menghadapi dinamika pasar urban.

Loncatan Besar Bersama Rumah BUMN BRI

Perkembangan signifikan Pempek Rafi 81 terjadi pada tahun 2018 ketika Nyayu bergabung menjadi UMKM binaan Rumah BUMN BRI. Di bawah naungan institusi perbankan besar ini, Nyayu tidak hanya sekadar mendapat tempat bernaung, tetapi juga mendapatkan pendidikan bisnis yang komprehensif. Mulai dari manajemen pembukuan, teknik branding, hingga strategi digital marketing yang mumpuni.

Berita Lainnya

IHSG Mengamuk! Rekor Lonjakan Nyaris 5% Warnai Bursa, Saham Bank Pelat Merah dan Emiten Konglomerat Pesta Pora

IHSG Mengamuk! Rekor Lonjakan Nyaris 5% Warnai Bursa, Saham Bank Pelat Merah dan Emiten Konglomerat Pesta Pora

Salah satu saran paling berharga dari para mentor di Rumah BUMN BRI adalah keberanian untuk kembali ke akar. Nyayu didorong untuk menonjolkan keotentikan rasa Palembang yang kaya akan ikan sebagai nilai jual utama (unique selling point). Berkat dorongan tersebut, Nyayu kini membagi produknya ke dalam tiga varian untuk menyasar segmen pasar yang berbeda:

  • Varian Premium (1:2): Menggunakan daging ikan tenggiri asli dengan porsi ikan dua kali lipat lebih banyak dari tepung. Varian ini menjadi primadona bagi pecinta pempek sejati.
  • Varian Harian (Ikan Kakap): Ditujukan untuk konsumsi sehari-hari dengan harga yang lebih kompetitif namun tetap menjaga kualitas rasa.
  • Varian Ekonomis (Udang Rebon): Inovasi pempek tanpa ikan yang menggunakan udang rebon sebagai sumber gurihnya, sangat cocok bagi konsumen yang mencari camilan terjangkau layaknya pempek gerobakan.

Transformasi Digital dan Ekosistem QRIS BRI

Pandemi COVID-19 yang sempat melanda Indonesia memaksa Nyayu untuk menutup warung fisiknya. Namun, ilmu yang didapat dari pelatihan BRI membuatnya tidak patah arang. Ia segera beralih ke sistem Pre-Order (PO) online dan mengoptimalkan penggunaan Google My Business serta WhatsApp Business. Langkah ini terbukti efektif menjaga keberlangsungan usaha di tengah pembatasan aktivitas sosial.

Selain itu, Nyayu juga sangat terbantu dengan adanya teknologi QRIS BRI. Dalam setiap bazar yang ia ikuti, QRIS menjadi alat transaksi utama yang sangat memudahkan baik bagi dirinya maupun pembeli. “Memakai QRIS itu praktis sekali. Saya tidak perlu repot mencari uang kembalian, dan pelanggan sekarang memang lebih suka transaksi non-tunai. Apalagi ada fitur BRI Notif, jadi setiap ada uang masuk, langsung ada pemberitahuan ke WhatsApp saya secara real-time,” papar Nyayu.

Eksis dari Bazar ke Bazar dengan Omzet Puluhan Juta

Strategi “nomaden” dengan aktif mengikuti berbagai pameran dan bazar UMKM kini menjadi mesin pertumbuhan utama Pempek Rafi 81. Statusnya sebagai UMKM binaan BRI sering kali memberinya kesempatan untuk berpartisipasi dalam event-event bergengsi, seperti pameran di Indonesia Open hingga bazar di kampus-kampus besar seperti Binus University.

Hasilnya sungguh fantastis. Dalam satu gelaran bazar selama enam hari di Indonesia Open, Nyayu mampu meraup omzet di atas Rp 12 juta. Sementara dalam sebulan, jika jadwal bazar sedang padat, ia bisa mengantongi omzet hingga lebih dari Rp 25 juta. Produksi pempek frozen-nya pun kini mencapai minimal 2.500 pcs per bulan, belum termasuk menu pendamping lain seperti tekwan, celimpungan, hingga pindang patin.

Keberhasilan Nyayu Maryati adalah potret nyata bagaimana kegigihan seorang perantau, jika dipadukan dengan strategi pemasaran yang tepat dan dukungan ekosistem digital perbankan, dapat menghasilkan kesuksesan yang luar biasa. Pempek Rafi 81 bukan sekadar makanan, ia adalah bukti bahwa kualitas dan keotentikan akan selalu menemukan jalan menuju hati (dan lidah) para pelanggan di mana pun berada.

Reporter Nasional

Reporter Nasional

Mengulas berita politik dan sosial dari berbagai daerah di Indonesia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *