Menakar Strategi Bapanas dalam Mengikis Pemborosan Pangan Nasional: Upaya Membangun Budaya ‘Stop Boros Pangan’ dari Daerah

Redaksi LajuBerita | LajuBerita
22 Jun 2026, 04:47 WIB
Menakar Strategi Bapanas dalam Mengikis Pemborosan Pangan Nasional: Upaya Membangun Budaya 'Stop Boros Pangan' dari Daer

LajuBerita — Di tengah tantangan ketahanan pangan global yang kian dinamis, Indonesia menghadapi sebuah kontradiksi yang cukup ironis. Di satu sisi, upaya untuk meningkatkan produksi pangan terus digenjot, namun di sisi lain, volume pangan yang terbuang percuma masih menjadi persoalan pelik yang belum sepenuhnya terurai. Fenomena inilah yang memicu Badan Pangan Nasional (Bapanas) untuk memperkuat Gerakan Selamatkan Pangan (GSP), sebuah inisiatif ambisius yang bertujuan menekan angka pemborosan pangan sekaligus memastikan akses pangan bagi mereka yang membutuhkan.

Paradoks Kelaparan dan Gunungan Sampah Makanan

Setiap harinya, ribuan ton makanan yang sebenarnya masih sangat layak dikonsumsi berakhir begitu saja di tempat pembuangan akhir. Direktur Kewaspadaan Pangan Bapanas, Nita Yulianis, menyoroti fakta pahit ini sebagai sebuah masalah sosial yang memerlukan penanganan sistematis. Menurutnya, sementara tumpukan sampah makanan terus meninggi, masih banyak lapisan masyarakat yang harus berjuang ekstra keras hanya untuk mendapatkan asupan gizi yang cukup.

Berita Lainnya

Dominasi Sektor Tambang, Pertamina Lubricants Sabet Penghargaan Gold di IMS Awards 2026

Dominasi Sektor Tambang, Pertamina Lubricants Sabet Penghargaan Gold di IMS Awards 2026

Kesenjangan ini menjadi landasan utama mengapa Gerakan Selamatkan Pangan kini masif didorong ke berbagai daerah. Fokus utamanya bukan sekadar membuang sisa, melainkan mengelola pangan berlebih (surplus) agar dapat dimanfaatkan kembali secara optimal. Gerakan ini berupaya mengubah paradigma masyarakat dari budaya konsumtif yang boros menjadi budaya yang lebih menghargai setiap butir nasi dan jenis pangan lainnya melalui kampanye Stop Boros Pangan.

Lima Pilar Strategis Penyelamatan Pangan Nasional

Untuk memastikan gerakan ini tidak hanya menjadi jargon semata, Bapanas telah merumuskan lima strategi utama yang menjadi kompas dalam implementasi di lapangan. Strategi ini dirancang untuk menyentuh berbagai aspek, mulai dari regulasi hingga aksi nyata di level akar rumput.

Berita Lainnya

Lompatan Digital dari Timur: SIAP MBG Nabire Jadi Garda Terdepan Deteksi Stunting dan Malanutrisi

Lompatan Digital dari Timur: SIAP MBG Nabire Jadi Garda Terdepan Deteksi Stunting dan Malanutrisi
  • Penguatan Konsepsi dan Kerangka Kerja: Membangun fondasi pemahaman yang sama mengenai apa itu penyelamatan pangan dan bagaimana alurnya harus dijalankan secara profesional.
  • Penguatan Kebijakan: Mendorong terciptanya payung hukum di tingkat pusat maupun daerah agar program ini memiliki legitimasi dan keberlanjutan jangka panjang.
  • Implementasi Aksi Nyata: Melakukan langkah-langkah teknis di lapangan, seperti pengumpulan pangan surplus dari sektor perhotelan dan restoran.
  • Kolaborasi Multipihak: Menyadari bahwa pemerintah tidak bisa bekerja sendiri, Bapanas merangkul sektor swasta, komunitas, hingga akademisi.
  • Sinkronisasi Program: Memastikan adanya keselarasan antara kebijakan yang dibuat di Jakarta dengan eksekusi yang dilakukan oleh pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota.

Sulawesi Selatan Sebagai Garda Depan Penyelamatan Pangan

Dalam koordinasi terbaru yang berlangsung di Makassar, Sulawesi Selatan muncul sebagai salah satu provinsi yang menunjukkan komitmen luar biasa. Melalui Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Sulawesi Selatan, daerah ini mulai mengintegrasikan gerakan selamatkan pangan ke dalam sistem tata kelola daerahnya. Hingga saat ini, tercatat sudah ada 17 provinsi dan 54 kabupaten/kota di seluruh Indonesia yang telah menerbitkan instruksi atau surat edaran kepala daerah terkait penyelamatan pangan.

Berita Lainnya

Piala Uber 2026: Di Bawah Komando Putri KW, Srikandi Indonesia Siap Taklukkan Denmark

Piala Uber 2026: Di Bawah Komando Putri KW, Srikandi Indonesia Siap Taklukkan Denmark

Nita Yulianis memberikan apresiasi khusus bagi Sulawesi Selatan yang dinilai aktif dalam melaporkan kegiatan penyelamatan pangan melalui platform digital. Transparansi data ini sangat krusial untuk mengukur sejauh mana dampak sosial dan ekonomi yang dihasilkan dari program ini. Sebagai bentuk dukungan nyata, pada tahun 2026 mendatang, Sulawesi Selatan dijadwalkan akan menerima bantuan berupa mobil penyelamatan pangan yang dilengkapi dengan teknologi terkini.

Infrastruktur dan Logistik: Menjamin Kualitas Pangan Surplus

Salah satu tantangan terbesar dalam menyelamatkan pangan adalah menjaga agar kualitas makanan tetap aman saat sampai di tangan penerima manfaat. Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan Sulawesi Selatan, Kemal Redindo Syahrul Putra, menekankan bahwa aspek keamanan pangan adalah prioritas utama yang tidak bisa ditawar.

Berita Lainnya

Visi Masa Depan di Jantung Beijing: Bagaimana Kawasan Industri Zhongguancun Mengubah Wajah Kecerdasan Berwujud Dunia

Untuk mendukung hal tersebut, pemerintah daerah telah menyiapkan fasilitas penunjang seperti laboratorium keamanan pangan dan unit cold storage (ruang pendingin). Fasilitas ini memungkinkan pangan surplus dari hotel atau restoran tetap terjaga kesegarannya dan terhindar dari kontaminasi bakteri sebelum didistribusikan kepada masyarakat yang membutuhkan. Mobil penyelamatan pangan yang akan hadir nantinya juga diharapkan menjadi jembatan logistik yang efisien antara penyumbang pangan dan titik-titik distribusi.

Sinergi Pentahelix: Menyatukan Visi Berbagai Pemangku Kepentingan

Keberhasilan Gerakan Selamatkan Pangan sangat bergantung pada konsep sinergi pentahelix. Ini melibatkan kolaborasi harmonis antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, dan media massa. Di Sulawesi Selatan, langkah ini diwujudkan dengan menggandeng mitra strategis seperti Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), serta Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA).

Dengan keterlibatan PHRI dan IHGMA, potensi pangan surplus dari industri pariwisata yang selama ini terbuang dapat terkelola dengan baik. Sektor swasta kini mulai melihat bahwa menyelamatkan pangan bukan hanya soal amal, tetapi juga bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dan upaya menjaga kelestarian lingkungan dengan mengurangi emisi gas metana yang dihasilkan dari sampah organik.

Pendekatan Budaya dan Spiritual dalam Konsumsi Pangan

Menariknya, gerakan ini juga menyentuh aspek spiritual dan kesadaran personal. Suzana, Wakil Ketua Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi) Sulawesi Selatan, berbagi pengalaman mengenai kampanye ‘Ego to Eco’ yang telah mereka jalankan selama lima tahun terakhir. Dengan tagline ‘Makan Habis Tanpa Sisa’ dan ‘Cegah Sebelum Menjadi Sampah’, mereka berupaya menyadarkan masyarakat bahwa perilaku boros pangan adalah bentuk ketidakpedulian terhadap lingkungan dan sesama.

Kampanye ini dilakukan melalui pemasangan poster edukatif di berbagai titik strategis, mulai dari kafe hingga tempat ibadah seperti wihara. Melalui pendekatan ini, diharapkan kesadaran untuk tidak menyisakan makanan menjadi sebuah gaya hidup baru yang melekat di hati setiap individu. Kesadaran kolektif inilah yang menjadi modal kuat bagi Indonesia untuk mewujudkan kemandirian pangan yang berkelanjutan di masa depan.

Kesimpulan dan Harapan Masa Depan

Upaya Bapanas melalui Gerakan Selamatkan Pangan adalah langkah progresif yang patut didukung oleh seluruh elemen bangsa. Dengan sinergi yang kuat, infrastruktur yang memadai, dan regulasi yang tegas, target untuk menekan pemborosan pangan nasional bukanlah hal yang mustahil untuk dicapai. Harapannya, pada tahun-tahun mendatang, tidak ada lagi cerita tentang pangan yang terbuang di saat masih ada saudara kita yang menahan lapar. Penyelamatan pangan adalah manifestasi nyata dari rasa syukur dan kemanusiaan kita sebagai bangsa yang besar.

Redaksi LajuBerita

Redaksi LajuBerita

Tim redaksi LajuBerita mengkurasi dan menulis berita terbaru dari berbagai sumber terpercaya di Indonesia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *