Seloroh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa: Akui ‘Menyesal’ dan Singgung Penurunan Gaji Usai Tinggalkan LPS

Reporter Nasional | LajuBerita
22 Mei 2026, 12:50 WIB
Seloroh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa: Akui 'Menyesal' dan Singgung Penurunan Gaji Usai Tinggalkan LPS

LajuBerita — Menakhodai bendahara negara di tengah dinamika ekonomi global yang penuh ketidakpastian bukanlah tugas ringan. Hal inilah yang dirasakan secara mendalam oleh Purbaya Yudhi Sadewa, sosok yang kini mengemban amanah sebagai Menteri Keuangan Republik Indonesia. Dalam sebuah kesempatan santai yang dibalut suasana hangat, Purbaya melontarkan pengakuan mengejutkan yang memancing gelak tawa sekaligus menjadi refleksi atas beratnya tanggung jawab di kursi kementerian.

Di hadapan para pelaku industri keuangan dan tokoh nasional, Purbaya berseloroh mengenai ‘penyesalannya’ beralih profesi dari Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menjadi Menteri Keuangan. Kelakar ini disampaikan saat ia berbagi panggung dengan Founder CT Corp, Chairul Tanjung, dalam perhelatan Jogjakarta Financial Festival yang berlangsung di Jogja Expo Centre (JEC), Jumat (21/5/2026). Dengan gaya bicaranya yang lugas namun jenaka, ia membandingkan kenyamanan masa lalunya dengan kesibukan luar biasa yang ia hadapi saat ini.

Berita Lainnya

Metamorfosis Desa Benteng: Jejak Inspiratif Agrowisata BRILiaN dalam Membangun Ekonomi Kerakyatan

Metamorfosis Desa Benteng: Jejak Inspiratif Agrowisata BRILiaN dalam Membangun Ekonomi Kerakyatan

Transformasi Drastis dari Regulator ke Pengelola Kas Negara

Purbaya tidak memungkiri bahwa ritme kerjanya berubah 180 derajat sejak dilantik dalam perombakan Kabinet Merah Putih. Jika sebelumnya di LPS ia fokus pada stabilitas sistem perbankan dengan tempo yang lebih terukur, kini ia harus terjaga hampir 24 jam untuk memastikan kesehatan fiskal negara. “Ya kan banyak kerjaan. Di samping itu nyesal kenapa saya jadi Menteri Keuangan, jadi banyak kerjaan. Harusnya kita santai di LPS,” ungkapnya sembari tertawa, yang disambut riuh para hadirin di JEC.

Pernyataan tersebut tentu bukan merupakan sebuah keluhan formal, melainkan sebuah sarkasme cerdas untuk menggambarkan betapa masifnya beban kerja di Kementerian Keuangan. Purbaya menekankan bahwa tanggung jawab mengelola Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) memerlukan energi yang jauh lebih besar dibandingkan posisi-posisi sebelumnya yang pernah ia tempati. Transisi ini, menurutnya, menuntut adaptasi fisik dan mental yang luar biasa cepat.

Berita Lainnya

Rupiah Terjerembap! Dolar AS Kian Perkasa Tembus Level Rp 17.300, Apa Dampaknya bagi Ekonomi Nasional?

Rupiah Terjerembap! Dolar AS Kian Perkasa Tembus Level Rp 17.300, Apa Dampaknya bagi Ekonomi Nasional?

Realita Gaji: Tanggung Jawab Besar, Apresiasi Berbeda

Salah satu poin yang menarik perhatian adalah kejujuran Purbaya mengenai kompensasi finansial yang ia terima sebagai pejabat negara. Secara terang-terangan, ia menyebutkan bahwa gaji sebagai Menteri Keuangan justru lebih kecil dibandingkan saat ia menjabat sebagai pucuk pimpinan di LPS. Hal ini menjadi diskursus menarik di kalangan publik, mengingat posisi menteri seringkali dianggap sebagai posisi puncak dalam karier seseorang, namun secara remunerasi seringkali di bawah pimpinan lembaga independen atau BUMN.

“Enak sih Ketua LPS, gaji gede kerja agak santai. Kalau Menkeu gaji turun sedikit, kerja lebih berat,” tuturnya. Meskipun disampaikan dalam nada bercanda, pernyataan ini memberikan gambaran kepada masyarakat bahwa pengabdian sebagai pembantu presiden di Kementerian Keuangan lebih didasari pada semangat dedikasi daripada sekadar mengejar pundi-pendapatan. Baginya, kehormatan melayani negara adalah prioritas utama, meskipun harus dibayar dengan ‘pengorbanan’ finansial pribadi.

Berita Lainnya

Kementerian Keuangan Bakal Ambil Alih KCIC? Upaya Pemerintah Selamatkan Proyek Kereta Cepat Whoosh dari Jeratan Beban

Kementerian Keuangan Bakal Ambil Alih KCIC? Upaya Pemerintah Selamatkan Proyek Kereta Cepat Whoosh dari Jeratan Beban

Dampak Fisik: Turun 10 Kilogram dalam 8 Bulan

Beban kerja yang nyaris tanpa henti ternyata memberikan dampak nyata pada kondisi fisik sang menteri. Purbaya mengakui bahwa penampilannya yang kini terlihat lebih ramping bukan disebabkan oleh program diet yang disengaja, melainkan murni karena tekanan pekerjaan dan padatnya agenda kenegaraan. Sejak menjabat selama delapan bulan terakhir, ia mengaku berat badannya menyusut drastis.

“Delapan bulan jadi menteri, berat badan turun 10 kilogram,” ungkap Purbaya. Penurunan berat badan ini seolah menjadi bukti visual betapa menguras energinya tugas-tugas diplomatik, rapat-rapat maraton di kabinet, hingga perumusan kebijakan ekonomi makro. Sosoknya yang tampak kurus menjadi saksi bisu atas perjuangannya dalam mengawal transisi kepemimpinan ekonomi setelah era Sri Mulyani Indrawati berakhir.

Berita Lainnya

Ambisi Danantara ‘Menyulap’ Sampah Jakarta Menjadi Listrik: Investasi Jumbo Rp 17,3 Triliun Siap Dikucurkan

Ambisi Danantara ‘Menyulap’ Sampah Jakarta Menjadi Listrik: Investasi Jumbo Rp 17,3 Triliun Siap Dikucurkan

Meneruskan Estafet Kepemimpinan dari Sri Mulyani

Sebagai informasi tambahan bagi pembaca LajuBerita, Purbaya Yudhi Sadewa resmi menjabat sebagai Menteri Keuangan setelah menggantikan posisi Sri Mulyani Indrawati pada reshuffle kabinet tanggal 8 September 2025. Penunjukan Purbaya kala itu dipandang sebagai langkah strategis pemerintah untuk membawa angin segar sekaligus stabilitas, mengingat rekam jejaknya yang mumpuni di sektor moneter dan perbankan.

Sebelum dipanggil ke Lapangan Banteng, Purbaya adalah arsitek utama di LPS sejak ditunjuk melalui Keputusan Presiden RI No. 58/M Tahun 2020. Pengalamannya yang luas dalam menangani krisis perbankan dan menjaga kepercayaan nasabah menjadi modal kuat baginya untuk menakhodai kebijakan fiskal Indonesia. Meski kini ia berkelakar menyesal, publik melihat komitmennya yang kuat melalui berbagai terobosan, termasuk optimismenya dalam mendorong BUMN ekspor untuk melipatgandakan pendapatan negara.

Visi Masa Depan di Tengah ‘Penyesalan’ Jenaka

Di balik semua gurauan tentang gaji dan beban kerja, Purbaya tetap fokus pada target-target ambisius. Ia dikenal sangat vokal dalam mendorong efisiensi birokrasi dan optimalisasi aset negara. Menurutnya, tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana menjaga momentum pertumbuhan ekonomi tetap di atas 5 persen di tengah tekanan inflasi global dan fluktuasi nilai tukar rupiah.

Ia juga berkomitmen untuk melanjutkan reformasi perpajakan agar lebih berkeadilan dan transparan. Baginya, setiap tetes keringat dan ‘hilangnya’ 10 kilogram berat badan adalah bagian dari kontrak sosialnya dengan rakyat Indonesia. Diskusi hangat dengan Chairul Tanjung di Jogjakarta Financial Festival tersebut setidaknya memberikan sisi manusiawi dari seorang pejabat tinggi negara yang biasanya tampil sangat formal dan kaku di hadapan publik.

Ke depan, masyarakat menantikan apakah ‘penyesalan’ jenaka Purbaya ini akan berbanding lurus dengan prestasi gemilang dalam menyehatkan postur APBN kita. Satu yang pasti, meskipun gaji menurun dan jam tidur berkurang, semangat Purbaya dalam mengabdi tampak tetap menyala, dibuktikan dengan kehadirannya yang selalu aktif di berbagai forum ekonomi nasional maupun internasional.

Reporter Nasional

Reporter Nasional

Mengulas berita politik dan sosial dari berbagai daerah di Indonesia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *