Transformasi Digital Perbankan: Bos BRI Beberkan Strategi Navigasi di Era Disrupsi Teknologi

Reporter Nasional | LajuBerita
23 Mei 2026, 12:57 WIB
Transformasi Digital Perbankan: Bos BRI Beberkan Strategi Navigasi di Era Disrupsi Teknologi

LajuBerita — Industri perbankan nasional saat ini tengah berada di persimpangan jalan yang menentukan masa depannya. Wajah perbankan konvensional yang dahulu identik dengan bangunan fisik dan antrean panjang, kini perlahan memudar, digantikan oleh barisan kode digital dan akses tanpa batas di ujung jari nasabah. Fenomena ini ditegaskan oleh Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI), Hery Gunardi, yang memaparkan secara mendalam mengenai pergeseran paradigma dalam dunia keuangan saat ini.

Dalam sebuah kesempatan di ajang bergengsi Jogja Financial Festival, Hery mengungkapkan bahwa tantangan yang dihadapi oleh sektor perbankan digital bukan lagi sekadar mempertahankan likuiditas atau menjaga rasio kredit macet. Lebih dari itu, tantangan utamanya adalah bagaimana sebuah lembaga keuangan mampu bertransformasi secara total dari sekadar perantara keuangan (intermediasi) menjadi sebuah entitas perusahaan berbasis teknologi (tech-company).

Berita Lainnya

Petaka Lubang di Tol Jagorawi: Jasa Marga Gerak Cepat Perbaiki 8 Titik Kerusakan dan Siapkan Ganti Rugi

Petaka Lubang di Tol Jagorawi: Jasa Marga Gerak Cepat Perbaiki 8 Titik Kerusakan dan Siapkan Ganti Rugi

Evolusi Perbankan: Dari Kantor Cabang Menuju Genggaman

Menurut pandangan Hery, evolusi perbankan saat ini tidak dapat dilepaskan dari pesatnya perkembangan model bisnis yang beriringan dengan kemajuan teknologi informasi. Bank bukan lagi hanya tempat menyimpan dan meminjam uang secara fisik. Industri jasa keuangan telah sepenuhnya memasuki era digitalisasi yang sangat masif, di mana kehadiran financial technology (fintech) telah mengubah perilaku dan ekspektasi nasabah secara signifikan.

Perubahan ini, menurut catatan LajuBerita, memaksa perbankan tradisional untuk bergerak lebih lincah agar tidak tergilas oleh arus disrupsi. Nasabah masa kini menuntut kecepatan, keamanan, dan kemudahan dalam satu platform terintegrasi. Hal inilah yang mendasari transformasi besar-besaran di tubuh BRI, yang kini mulai menanggalkan citra kaku perbankan lama demi menjadi mesin penggerak ekonomi digital di Indonesia.

Berita Lainnya

Gibran Rakabuming Soroti Kebocoran Triliunan Rupiah Lewat Manipulasi Invoice Ekspor-Impor

Gibran Rakabuming Soroti Kebocoran Triliunan Rupiah Lewat Manipulasi Invoice Ekspor-Impor

Pandemi COVID-19 Sebagai Katalisator Perubahan

Menariknya, Hery Gunardi menyoroti bahwa akselerasi transformasi ini mendapatkan momentum tak terduga saat pandemi COVID-19 melanda dunia beberapa tahun lalu. Di tengah pembatasan aktivitas sosial yang melumpuhkan interaksi fisik, nasabah dipaksa untuk mencari alternatif cara bertransaksi tanpa harus menginjakkan kaki di kantor cabang. Situasi darurat ini justru menjadi berkah terselubung bagi ekosistem digital.

“Kami melihat data dari Bank Indonesia menunjukkan bahwa selama masa pandemi, terdapat lonjakan luar biasa. Ada sekitar 50 hingga 60 juta pengguna baru untuk layanan internet banking dan mobile banking. Ini adalah angka yang sangat fantastis dan menunjukkan kesiapan masyarakat kita untuk beralih ke cara-cara baru,” ujar Hery di hadapan para peserta Jogja Financial Festival. Lonjakan pengguna ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan sebuah perubahan perilaku permanen yang menjadi standar baru dalam layanan transaksi keuangan di tanah air.

Berita Lainnya

Fenomena Libur Idul Adha: Whoosh Tembus 22 Ribu Penumpang, KCIC Operasikan 68 Perjalanan Sehari

Fenomena Libur Idul Adha: Whoosh Tembus 22 Ribu Penumpang, KCIC Operasikan 68 Perjalanan Sehari

Dominasi BRImo: Super Apps dengan Transaksi Ribuan Triliun

Sebagai langkah konkret dalam merespons tantangan tersebut, BRI telah meluncurkan dan terus memperkuat super apps andalan mereka, BRImo. Aplikasi ini bukan sekadar alat pengecek saldo, melainkan sebuah ekosistem lengkap yang mampu melayani hampir seluruh kebutuhan finansial harian nasabah. Keberhasilan aplikasi ini tercermin dari angka-angka statistik yang mencengangkan.

Hingga saat ini, pengguna BRImo telah menembus angka lebih dari 60 juta orang. Namun, yang lebih menarik adalah volume transaksi yang dihasilkan. Hery mengungkapkan bahwa nilai transaksi melalui aplikasi ini mencapai Rp7.500 triliun per tahun. Jika dibedah lebih dalam, rata-rata transaksi harian yang mengalir di dalam sistem BRImo mencapai angka Rp32 triliun setiap harinya. Angka ini menegaskan posisi BRImo sebagai salah satu motor utama dalam perputaran ekonomi digital di Indonesia.

Berita Lainnya

Menhub Dudy Purwagandhi Tinjau Langsung Pemulihan Jalur KRL Bekasi-Cikarang: Babak Baru Pasca-Insiden Tragis

Menhub Dudy Purwagandhi Tinjau Langsung Pemulihan Jalur KRL Bekasi-Cikarang: Babak Baru Pasca-Insiden Tragis

Memperkuat Akar Hingga ke Pelosok Melalui Agen BRILink

Meskipun fokus pada digitalisasi, BRI tidak lantas meninggalkan komitmennya pada inklusi keuangan bagi masyarakat di daerah terpencil. Strategi yang diterapkan adalah perpaduan antara teknologi canggih dan sentuhan manusia (high tech and high touch). Selain melalui layanan QRIS dan Electronic Data Capture (EDC) yang tersebar di jutaan merchant, BRI juga memperkuat jaringan melalui agen BRILink.

Saat ini, tercatat ada sekitar 1,2 juta agen BRILink yang tersebar hingga ke pelosok desa di seluruh penjuru nusantara. Para agen ini berperan sebagai perpanjangan tangan bank yang memungkinkan masyarakat di wilayah yang belum terjangkau kantor cabang tetap dapat menikmati layanan perbankan. Model bisnis ini tidak hanya membantu bank dalam memperluas jangkauan, tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru dan pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat lokal melalui program inklusi keuangan yang inklusif.

Inovasi QLola: Menjawab Kebutuhan Sektor Korporasi

Tak hanya menyasar nasabah retail dan mikro, BRI juga menunjukkan taringnya di segmen korporasi melalui platform digital bernama QLola. Inovasi ini dirancang khusus untuk memfasilitasi kebutuhan transaksi perusahaan-perusahaan besar yang memerlukan sistem manajemen keuangan yang kompleks dan terintegrasi secara real-time.

Performa QLola pun tidak bisa dipandang sebelah mata. Hery menyebutkan bahwa total transaksi yang dikelola melalui platform ini sudah mencapai kisaran Rp98 triliun per tahun. Kapasitas transaksi sebesar ini menunjukkan bahwa transformasi digital BRI telah merambah ke segala lini, dari pedagang pasar hingga perusahaan besar dengan modal raksasa. Kapitalisasi yang sangat besar ini merupakan bukti nyata bahwa perubahan paradigma menuju teknologi harus disikapi dengan strategi yang optimal dan berkelanjutan.

Menatap Masa Depan Perbankan Nasional

Menutup pemaparannya, Hery Gunardi menekankan bahwa perjalanan menuju digitalisasi penuh bukanlah sebuah garis finis, melainkan proses yang terus berlanjut. Tantangan ke depan akan semakin kompleks, mulai dari isu keamanan siber (cybersecurity) hingga persaingan global yang semakin ketat. Namun, dengan fondasi teknologi yang kuat dan pemahaman mendalam terhadap kebutuhan pasar, industri perbankan nasional optimis dapat terus tumbuh.

LajuBerita melihat bahwa apa yang dilakukan oleh BRI merupakan cerminan dari kesiapan industri keuangan Indonesia dalam menghadapi masa depan. Perpaduan antara inovasi teknologi, keberanian bertransformasi, dan komitmen pada pelayanan masyarakat menjadi kunci utama bagi perbankan untuk tetap relevan dan menjadi tulang punggung perekonomian nasional di era digital ini.

Reporter Nasional

Reporter Nasional

Mengulas berita politik dan sosial dari berbagai daerah di Indonesia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *