Jelang Idul Adha, Mendag Pastikan Harga Minyakita dan Cabai Tetap Stabil di Pasaran
LajuBerita — Menjelang momentum besar Hari Raya Idul Adha, stabilitas harga kebutuhan pokok menjadi fokus utama pemerintah demi memastikan daya beli masyarakat tetap terjaga. Menteri Perdagangan (Mendag), Budi Santoso, membawa kabar melegakan bagi para ibu rumah tangga dan pelaku usaha mikro. Berdasarkan pantauan terkini di lapangan, sejumlah komoditas penting seperti Minyakita, telur ayam, hingga berbagai jenis cabai dilaporkan masih berada dalam koridor harga yang stabil dan terkendali.
Ketenangan pasar ini menjadi angin segar di tengah kekhawatiran musiman akan terjadinya lonjakan harga atau inflasi pangan yang biasanya menyertai hari raya besar keagamaan. Budi Santoso menegaskan bahwa pemerintah terus melakukan pemantauan ketat melalui instrumen digital untuk memastikan tidak ada spekulasi harga yang merugikan konsumen di berbagai daerah.
Lonjakan Harga Avtur, Garuda dan Saudia Airlines Usulkan Kenaikan Tiket Haji hingga Jutaan Rupiah
Pantauan Digital Melalui SP2KP
Dalam keterangannya di hadapan awak media di Jakarta Pusat, Budi Santoso mengungkapkan bahwa data yang ia peroleh merujuk pada Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP). Sistem ini menjadi kompas bagi Kementerian Perdagangan untuk melihat dinamika harga secara real-time di seluruh pelosok Indonesia. Menurutnya, meskipun terdapat riak-riak kenaikan di beberapa titik, secara agregat nasional angka-angka tersebut masih sangat wajar.
“Kami baru saja memverifikasi data terbaru melalui SP2KP. Untuk komoditas Minyakita, harga rata-rata berada di level Rp 15.854 per liter. Sementara itu, untuk telur ayam ras, masyarakat bisa mendapatkannya dengan harga sekitar Rp 27.000 per kilogram,” ungkap Budi Santoso saat ditemui di kantornya pada Senin (25/5/2026). Angka ini menunjukkan bahwa intervensi pasar dan rantai pasok yang dikelola pemerintah sejauh ini berjalan sesuai rencana.
Langkah Strategis Ketahanan Energi: Bahlil Lahadalia Pastikan Minyak Mentah Rusia Segera Masuk ke Indonesia
Kestabilan ini bukan tanpa alasan. Pemerintah telah melakukan berbagai koordinasi lintas sektoral untuk memastikan stok di gudang-gudang distribusi mencukupi kebutuhan masyarakat selama periode puncak permintaan menjelang Idul Adha. Dengan stok yang melimpah, potensi kelangkaan yang biasanya memicu kenaikan harga secara drastis dapat dimitigasi sejak dini.
Daging Sapi dan Cabai: Masih di Bawah Plafon Harga Acuan
Salah satu kekhawatiran terbesar masyarakat setiap menjelang Idul Adha adalah harga daging sapi. Namun, Budi memberikan jaminan bahwa harga daging sapi saat ini masih berada di bawah Harga Acuan Penjualan (HAP) yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp 140.000 per kilogram. Saat ini, harga di pasar masih bertengger di kisaran Rp 137.000 per kilogram, sebuah angka yang dinilai masih cukup terjangkau bagi masyarakat luas.
Paradoks Ekonomi Indonesia: Mengapa Pertumbuhan 35 Persen Justru Menambah Angka Kemiskinan? Ini Sorotan Tajam Prabowo
Sektor bumbu dapur, khususnya harga cabai, juga menunjukkan performa yang cukup stabil. Di tengah fluktuasi cuaca yang seringkali menjadi kendala produksi petani, harga cabai secara nasional terpantau berada di level Rp 55.000 per kilogram. Budi Santoso menilai level ini masih dalam batas kewajaran jika melihat biaya produksi dan distribusi yang ada saat ini.
“Harga cabai masih sangat wajar. Memang ada variasi harga tergantung jenis dan kualitasnya, namun secara umum tidak ada lonjakan ekstrem yang perlu dikhawatirkan masyarakat dalam waktu dekat,” tambahnya dengan nada optimistis.
Tantangan Logistik di Wilayah Indonesia Timur
Kendati potret harga secara nasional terlihat stabil, Menteri Perdagangan tidak menampik adanya disparitas harga yang terjadi di wilayah Indonesia Timur, terutama di Papua. Jarak tempuh dan biaya logistik yang tinggi seringkali membuat komoditas pangan di daerah tersebut dibanderol dengan harga yang lebih mahal dibandingkan dengan wilayah di Pulau Jawa atau Sumatera.
Utang Pemerintah Indonesia Nyaris Tembus Rp 10.000 Triliun: Mengupas Strategi di Balik Beban Fiskal Nasional
Menanggapi hal ini, Kementerian Perdagangan telah mengambil langkah proaktif. Budi menjelaskan bahwa pihaknya telah menginstruksikan para supplier dan distributor besar untuk memperkuat pasokan ke daerah-daerah terpencil. Fokusnya adalah memastikan kelancaran arus barang sehingga tidak terjadi kekosongan stok yang bisa memicu spekulasi harga di tingkat pedagang eceran.
“Memang di daerah seperti Papua, beberapa komoditas tercatat memiliki harga yang cukup tinggi. Kami sudah meminta kepada para penyuplai untuk memberikan perhatian ekstra pada distribusi ke sana. Tujuannya agar ketimpangan harga ini bisa diminimalisir dan saudara-saudara kita di timur tetap bisa merayakan Idul Adha dengan tenang,” jelas Budi secara mendalam.
Rincian Pergerakan Harga Komoditas Berdasarkan Data SP2KP
Berdasarkan data yang dihimpun dari SP2KP Kementerian Perdagangan per tanggal 22 Mei 2026, terdapat dinamika fluktuasi harga yang sangat tipis pada beberapa komoditas. Misalnya, Minyakita mengalami kenaikan marjinal sebesar 0,02%, dari Rp 15.851 menjadi Rp 15.854 per liter. Minyak goreng curah juga mengalami pergeseran harga sebesar 0,21% ke angka Rp 19.645 per liter, disusul minyak kemasan premium yang naik tipis 0,09% menjadi Rp 22.208 per liter.
Di sektor hortikultura, cabai rawit merah mengalami kenaikan 1,28% sehingga menyentuh angka Rp 67.518 per kilogram. Sementara cabai merah besar dan cabai merah keriting masing-masing naik di bawah satu persen, menempatkan harganya di kisaran Rp 50.465 dan Rp 46.942 per kilogram. Untuk komoditas bawang merah, tercatat ada kenaikan sebesar 0,89% menjadi Rp 44.624 per kilogram. Sebaliknya, bawang putih Honan justru mengalami penurunan harga sebesar 0,33% menjadi Rp 34.582 per kilogram.
Untuk protein hewani, daging sapi paha belakang hanya naik sangat tipis 0,02% menjadi Rp 139.687 per kilogram. Daging ayam ras juga terpantau stabil dengan kenaikan hanya 0,01% di harga Rp 37.330 per kilogram. Menariknya, telur ayam ras justru mengalami tren penurunan sebesar 0,23%, dari harga sebelumnya Rp 27.957 menjadi Rp 27.893 per kilogram, memberikan sedikit ruang napas bagi pengeluaran rumah tangga.
Sinergi Kebijakan dan Bantuan Sosial
Selain melakukan pengawasan harga, pemerintah juga memperkuat jaring pengaman sosial untuk menjaga daya beli kelompok masyarakat rentan. Budi Santoso mengingatkan bahwa kebijakan bansos beras dan minyak goreng telah diperpanjang hingga bulan Juni 2026. Langkah ini diambil sebagai strategi ganda: menjaga ketersediaan pangan di tingkat rumah tangga sekaligus menekan permintaan di pasar bebas agar harga tidak meroket.
Kehadiran bansos ini dianggap efektif dalam meredam gejolak harga pangan pokok. Dengan adanya pasokan rutin dari pemerintah kepada jutaan keluarga penerima manfaat, tekanan permintaan terhadap stok komoditas di pasar retail menjadi lebih terkendali. Hal ini secara tidak langsung membantu menjaga harga tetap berada pada level psikologis yang aman bagi masyarakat umum.
Sebagai penutup, Menteri Perdagangan mengajak masyarakat untuk tetap tenang dan berbelanja secara bijak sesuai dengan kebutuhan. Beliau menjamin bahwa pemerintah akan terus hadir di pasar-pasar rakyat melalui operasi pasar murah jika ditemukan indikasi kenaikan harga yang tidak wajar di lapangan. Dengan sinergi antara pemerintah, pemasok, dan masyarakat, perayaan Idul Adha tahun ini diharapkan berlangsung khidmat dengan stabilitas pangan yang terjaga dengan baik.