Estimasi Ngeri: Biaya Perang AS-Israel Melawan Iran Diprediksi Tembus US$ 1 Triliun

Reporter Nasional | LajuBerita
14 Apr 2026, 22:22 WIB
Estimasi Ngeri: Biaya Perang AS-Israel Melawan Iran Diprediksi Tembus US$ 1 Triliun

LajuBerita — Eskalasi ketegangan militer di Timur Tengah kini tidak hanya dipandang dari sudut pandang keamanan, tetapi juga dari sisi beban finansial yang sangat masif. Berdasarkan proyeksi terbaru, total biaya yang harus dikeluarkan Amerika Serikat (AS) dan Israel dalam konflik militer melawan Iran diperkirakan bakal membengkak hingga melampaui angka resmi pemerintah, bahkan diprediksi menembus US$ 1 triliun atau sekitar Rp 17.100 triliun.

Akademisi dari Universitas Harvard, Linda Bilmes, mengungkapkan kekhawatirannya dalam sebuah wawancara mendalam. Menurutnya, angka yang dirilis oleh otoritas keamanan sering kali tidak mencerminkan realitas pahit di lapangan. “Saya sangat meyakini bahwa perang melawan Iran ini akan menelan biaya hingga US$ 1 triliun,” ujar Bilmes sebagaimana dilaporkan oleh CNBC International.

Berita Lainnya

Ketegasan Presiden Prabowo: BBM Subsidi Khusus Rakyat Miskin, Kelompok Mampu Wajib Bayar Harga Pasar

Ketegasan Presiden Prabowo: BBM Subsidi Khusus Rakyat Miskin, Kelompok Mampu Wajib Bayar Harga Pasar

Kesenjangan Laporan Pentagon dan Realitas Lapangan

Dalam laporan resminya kepada Kongres, Pentagon menyebutkan bahwa operasi gabungan AS-Israel dalam menghadapi kekuatan Iran telah menghabiskan dana sekitar US$ 11,3 miliar hanya dalam kurun waktu enam hari. Namun, Bilmes menilai laporan tersebut hanyalah puncak dari gunung es. Ia memperkirakan bahwa dalam skenario konflik berkelanjutan selama 40 hari, biaya jangka pendek saja bisa menyentuh angka US$ 2 miliar per hari.

Masalah utama terletak pada metodologi penghitungan. Pentagon cenderung menggunakan nilai buku lama untuk aset-aset militer yang dikerahkan. Padahal, biaya untuk mengganti amunisi, suku cadang, dan alutsista yang hancur saat ini jauh lebih mahal karena inflasi dan teknologi yang semakin kompleks. Bilmes menyebut ada selisih yang signifikan; apa yang dilaporkan sebesar US$ 11,3 miliar sebenarnya lebih mendekati angka US$ 16 miliar jika menggunakan standar harga penggantian terkini.

Berita Lainnya

Waspada Fenomena Joki SPT di Era Coretax, DJP Ingatkan Risiko Kebocoran Data Pribadi

Waspada Fenomena Joki SPT di Era Coretax, DJP Ingatkan Risiko Kebocoran Data Pribadi

Ironi Biaya: Rudal Mahal Melawan Drone Murah

Salah satu poin yang paling mencolok adalah ketimpangan ekonomi dalam taktik peperangan. AS dan sekutunya harus mengandalkan rudal pencegat (interceptor) buatan Lockheed Martin dan Boeing yang harganya mencapai US$ 4 juta per unit. Sementara itu, Iran mampu memproduksi drone tempur dengan biaya yang sangat ekonomis, yakni hanya sekitar US$ 30.000 per unit.

“Ketidakseimbangan biaya ini menciptakan lubang hitam dalam anggaran pertahanan kita,” tambah Bilmes. Selain biaya operasional di medan tempur, AS juga dihadapkan pada kewajiban jangka panjang untuk merekonstruksi infrastruktur strategis milik sekutu di kawasan Teluk yang berisiko hancur akibat serangan balasan.

Dampak Buruk bagi Defisit dan Generasi Mendatang

Gedung Putih saat ini telah mengajukan kenaikan anggaran militer kepada Kongres hingga mencapai US$ 1,5 triliun. Jika angka ini disetujui, maka ini akan menjadi belanja militer terbesar dalam sejarah AS sejak Perang Dunia II. Kondisi ini tentu saja memperburuk kondisi ekonomi global dan menambah beban fiskal negara paman sam tersebut.

Berita Lainnya

Atasi Macet Horor Bali, Taksi Air Bandara-Canggu Siap Beroperasi 2026: Hanya 30 Menit!

Atasi Macet Horor Bali, Taksi Air Bandara-Canggu Siap Beroperasi 2026: Hanya 30 Menit!

Sebagai catatan sejarah, perang Irak dahulu menelan biaya US$ 2 triliun di saat utang publik AS masih di bawah US$ 4 triliun. Kini, dengan utang AS yang telah menembus US$ 31 triliun, pembiayaan perang baru hanya akan memperlebar defisit fiskal. Bilmes memperingatkan bahwa perang kali ini didanai dengan pinjaman berbunga tinggi di atas tumpukan utang yang sudah menggunung.

“Beban bunga dari utang perang ini adalah warisan nyata yang sangat berat bagi generasi berikutnya. Ini bukan lagi sekadar biaya operasional, melainkan ancaman stabilitas ekonomi jangka panjang,” tutupnya. Kondisi ini memaksa publik untuk melihat kembali apakah diplomasi masih memiliki ruang di tengah dentuman meriam yang kian mahal harganya.

Berita Lainnya

Prestasi Gemilang, Ekspor Perikanan Indonesia Tembus Rp 107 Triliun Sepanjang 2025

Prestasi Gemilang, Ekspor Perikanan Indonesia Tembus Rp 107 Triliun Sepanjang 2025
Reporter Nasional

Reporter Nasional

Mengulas berita politik dan sosial dari berbagai daerah di Indonesia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *