Dampak Domino Harga Plastik: Biaya Kemasan Mulai Kerek Harga Beras dan Gula Nasional

Reporter Nasional | LajuBerita
18 Apr 2026, 18:48 WIB
Dampak Domino Harga Plastik: Biaya Kemasan Mulai Kerek Harga Beras dan Gula Nasional

LajuBerita — Tekanan pada industri hulu kimia tampaknya mulai merembet hingga ke urusan dapur masyarakat. Badan Pangan Nasional (Bapanas) baru-baru ini melaporkan bahwa lonjakan harga plastik yang digunakan sebagai bahan pengemas telah memicu penyesuaian harga pada komoditas strategis seperti beras dan gula pasir di tingkat konsumen.

Kenaikan ini terungkap setelah pihak otoritas pangan menyerap langsung aspirasi dari para pelaku usaha di sektor perberasan dan gula. Fenomena kelangkaan pasokan plastik di pasar global maupun domestik memaksa produsen melakukan kalkulasi ulang terhadap biaya produksi mereka, yang pada akhirnya berdampak pada harga jual produk di pasar.

Efek Domino Biaya Kemasan terhadap Kebutuhan Pokok

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, memaparkan bahwa komponen biaya kemasan kini menjadi variabel yang cukup sensitif. Berdasarkan data dari lapangan, kenaikan biaya plastik ini memberikan tambahan beban harga sekitar Rp 350 per kilogram untuk komoditas beras.

Berita Lainnya

BEI Soroti Dominasi Saham di 9 Emiten Raksasa, Instruksi Benahi Struktur Kepemilikan Segera Dirilis

BEI Soroti Dominasi Saham di 9 Emiten Raksasa, Instruksi Benahi Struktur Kepemilikan Segera Dirilis

Sementara itu, untuk komoditas gula pasir, pengaruh kenaikan biaya plastik tercatat sebesar Rp 150 per kilogram. Meski angka tersebut sepintas terlihat kecil, Ketut menegaskan bahwa akumulasi kenaikan per kilogram ini sangat terasa di tingkat masyarakat luas dan harus segera dicarikan solusinya agar tidak memicu inflasi pangan yang lebih tinggi.

“Pelaku usaha menyampaikan bahwa di beras ada kenaikan Rp 350 per kilogram, dan gula sekitar Rp 150 per kilogram. Ini dampak yang nyata dan harus kita jaga betul supaya tidak meluas ke depannya,” ungkap Ketut secara tertulis.

Analisis Fluktuasi Harga Beras dan Gula

Walaupun tertekan oleh harga kemasan, pantauan Bapanas hingga pertengahan April menunjukkan bahwa fluktuasi harga pangan pokok masih dalam koridor yang wajar. Kenaikan harga rata-rata bulanan terpantau masih di bawah ambang batas 5 persen, dengan harga beras medium secara nasional yang relatif masih konsisten di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET).

Berita Lainnya

Kemenperin Tangkis Isu Deindustrialisasi: Bukti Pertumbuhan Manufaktur RI Masih Berada di Jalur Hijau

Kemenperin Tangkis Isu Deindustrialisasi: Bukti Pertumbuhan Manufaktur RI Masih Berada di Jalur Hijau

Berikut adalah rincian pergerakan harga beras berdasarkan zonasi wilayah:

  • Zona I: Mengalami kenaikan tipis sebesar 0,01%, dari Rp 12.964 menjadi Rp 12.965 per kg.
  • Zona II: Terjadi kenaikan sebesar 0,27%, bergerak dari Rp 13.585 ke Rp 13.622 per kg.
  • Zona III: Mencatatkan kenaikan tertinggi sebesar 0,65%, dari Rp 15.056 menjadi Rp 15.154 per kg.

Untuk komoditas gula pasir, tren kenaikan secara nasional mencapai 2,06% dengan harga rata-rata Rp 18.615 per kg. Uniknya, di wilayah Indonesia Timur, harga gula justru menunjukkan tren penurunan sebesar 1,22%, turun dari Rp 20.412 menjadi Rp 20.163 per kg dalam sebulan terakhir.

Langkah Strategis Pemerintah dalam Menjaga Stabilitas

Menanggapi situasi ini, Bapanas berkomitmen untuk memperkuat koordinasi lintas sektoral guna memastikan ketersediaan stok pangan tetap aman dengan harga terjangkau. Fokus utama saat ini adalah menjamin suplai plastik kemasan bagi industri pangan melalui kerja sama dengan Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan.

Berita Lainnya

Terobosan Besar Prabowo: Pangkas Bunga Kredit Rakyat Jadi 5% dan Program Rumah 40 Tahun untuk Kaum Buruh

Terobosan Besar Prabowo: Pangkas Bunga Kredit Rakyat Jadi 5% dan Program Rumah 40 Tahun untuk Kaum Buruh

Ketut menambahkan bahwa pihaknya berencana menggelar rapat koordinasi besar guna merumuskan solusi jangka panjang terkait sumber pasokan bahan baku plastik yang lebih stabil. Langkah proaktif ini diharapkan mampu menekan potensi kenaikan harga pangan di masa depan akibat kendala logistik dan bahan penolong kemasan.

Reporter Nasional

Reporter Nasional

Mengulas berita politik dan sosial dari berbagai daerah di Indonesia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *