Selat Hormuz Kembali Ditutup, Dua Kapal Tanker Pertamina Tertahan di Pusaran Ketegangan Global
LajuBerita — Eskalasi ketegangan di salah satu urat nadi perdagangan dunia kembali memuncak. Iran secara resmi mengumumkan penutupan kembali Selat Hormuz pada Sabtu (18/4), hanya berselang beberapa jam setelah jalur strategis tersebut sempat dibuka. Langkah drastis ini diambil Teheran sebagai bentuk protes keras terhadap Amerika Serikat yang dituding melanggar kesepakatan dengan tetap melanjutkan blokade angkatan laut terhadap kapal-kapal yang menuju atau berasal dari pelabuhan Iran.
Kebijakan penutupan mendadak ini berdampak langsung pada operasional logistik energi nasional. PT Pertamina Internasional Shipping (PIS) mengonfirmasi bahwa dua kapal raksasa milik mereka saat ini tertahan dan belum bisa melanjutkan perjalanan melintasi selat tersebut. Meski demikian, pihak manajemen memastikan bahwa seluruh kru dan muatan dalam kondisi yang terkendali.
Prabowo Menggebrak: Lahan Negara yang Diserobot Pihak Luar Bakal Disulap Jadi Hunian Rakyat
Posisi Strategis Armada Pertamina
Berdasarkan pantauan terkini dari sistem pelacak maritim, dua armada yang terjebak di wilayah Teluk Persia tersebut adalah kapal tanker Pertamina Pride dan Gamsunoro. Hingga pekan ini, Pertamina Pride terdeteksi masih lego jangkar di lepas pantai Al Jubail, Arab Saudi. Sementara itu, Gamsunoro berada di posisi siaga di perairan lepas pantai Dubai, Uni Emirat Arab.
Vega Pita, selaku Pejabat Sementara Corporate Secretary PIS, menyatakan bahwa pihaknya terus memantau situasi keamanan maritim di kawasan tersebut dengan sangat intensif. “Dua kapal kami masih berada di Teluk Arab dan belum memungkinkan untuk melewati Selat Hormuz. Namun, kami bisa pastikan kondisinya saat ini tetap aman,” ungkap Vega dalam keterangannya.
Transformasi Digital Berbuah Manis, Allo Bank Sabet Penghargaan Internasional Berkat Inovasi Omnichannel
Mitigasi Risiko dan Diplomasi Maritim
Menghadapi situasi yang dinamis ini, PIS telah menyiapkan strategi matang yang tertuang dalam passage plan atau rencana pelayaran yang komprehensif. Langkah ini mencakup penyusunan rute alternatif, identifikasi risiko navigasi elektronik, hingga skenario kontingensi jika konflik terus berlarut. Fokus utama perusahaan adalah memastikan keselamatan pelayaran tetap menjadi prioritas tertinggi di atas segala aspek operasional lainnya.
Tidak hanya bekerja di ranah teknis, Pertamina juga menjalin komunikasi erat dengan Kementerian Luar Negeri RI. Jalur diplomatik diaktifkan guna berkoordinasi dengan otoritas setempat demi mendapatkan kepastian keamanan bagi armada Indonesia. Selain itu, koordinasi lintas sektoral dengan perusahaan asuransi, manajemen kapal, dan pemilik kargo terus dilakukan untuk mematuhi seluruh protokol perizinan yang berlaku.
Rupiah Kian Terjepit, Dolar AS Tembus Rekor Baru Rp 17.134 di Perdagangan Pagi
Penutupan Selat Hormuz selalu menjadi isu sensitif bagi pasar ekonomi global, mengingat hampir seperlima dari konsumsi minyak dunia melintasi jalur sempit ini. Bagi Pertamina, kesiagaan armada dan ketepatan mitigasi menjadi kunci agar pasokan energi nasional tetap terjaga di tengah ketidakpastian geopolitik yang kian memanas.