Badai Kurs Rupiah Tembus Rp 17.500: Puan Maharani Warning Pemerintah Soal Ancaman Terhadap UMKM dan Industri

Reporter Nasional | LajuBerita
13 Mei 2026, 06:48 WIB
Badai Kurs Rupiah Tembus Rp 17.500: Puan Maharani Warning Pemerintah Soal Ancaman Terhadap UMKM dan Industri

LajuBerita — Gejolak ekonomi global kembali menghantam pertahanan mata uang Garuda. Dalam sebuah pernyataan tegas, Ketua DPR RI Puan Maharani menyoroti kondisi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang kian mengkhawatirkan, menyentuh angka psikologis baru di level Rp 17.500. Fenomena ini bukan sekadar angka di papan bursa, melainkan sinyal bahaya bagi stabilitas ekonomi nasional, terutama bagi para pelaku usaha kecil dan menengah serta industri manufaktur yang sangat bergantung pada komponen impor.

Puan Maharani mengungkapkan bahwa pelemahan tajam ini tidak lepas dari eskalasi konflik di Timur Tengah yang kian memanas. Salah satu pemicu utamanya adalah potensi penutupan Selat Hormuz, sebuah jalur urat nadi perdagangan minyak dunia. Jika jalur ini terganggu, maka rantai pasok global akan mengalami disrupsi hebat yang berdampak langsung pada lonjakan harga energi dan biaya logistik internasional.

Berita Lainnya

Polemik Kebijakan DHE SDA: Menkeu Purbaya Balas Kritik Keras Pengusaha China yang Menyurati Presiden Prabowo

Polemik Kebijakan DHE SDA: Menkeu Purbaya Balas Kritik Keras Pengusaha China yang Menyurati Presiden Prabowo

Gelombang Kejut dari Selat Hormuz ke Pasar Domestik

Menurut analisis yang disampaikan Puan dalam Rapat Paripurna DPR RI ke-18 Masa Persidangan V, gangguan di Selat Hormuz telah menciptakan efek domino. Tekanan terhadap mata uang nasional kian berat seiring dengan ketidakpastian ekonomi global. Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar dolar AS sempat meroket hingga Rp 17.529 pada perdagangan Selasa sore, sebuah lonjakan yang sangat signifikan dibandingkan posisi pembukaan pasar.

“Kita sedang menghadapi situasi di mana ketahanan energi nasional dan stabilitas moneter diuji secara bersamaan. Kenaikan harga energi dan bahan bakar minyak akibat konflik global ini akan merambat pada peningkatan biaya logistik dan distribusi di dalam negeri,” ujar Puan dengan nada serius di hadapan para anggota dewan di Jakarta.

Berita Lainnya

Gejolak Energi Global: Donald Trump Habis Kesabaran, Harga Minyak Dunia Langsung Mendidih

Gejolak Energi Global: Donald Trump Habis Kesabaran, Harga Minyak Dunia Langsung Mendidih

UMKM dan Sektor Industri Berada di Garis Depan Dampak

Puan secara khusus menyoroti nasib UMKM Indonesia yang menjadi tulang punggung ekonomi nasional. Sektor ini, bersama dengan industri transportasi dan manufaktur, dianggap sebagai kelompok yang paling sensitif terhadap fluktuasi biaya operasional. Ketika dolar menguat, harga bahan baku impor otomatis melonjak, memaksa pengusaha untuk mengambil keputusan sulit: menaikkan harga jual atau menggerus margin keuntungan yang sudah tipis.

Kenaikan harga barang-barang yang mengandung komponen impor kini mulai dirasakan oleh masyarakat luas. Puan memperingatkan bahwa jika kondisi ini dibiarkan tanpa intervensi yang tepat, potensi terjadinya inflasi yang tak terkendali akan semakin nyata. Hal ini berujung pada penurunan daya beli masyarakat, yang pada akhirnya dapat memperlambat roda pertumbuhan ekonomi nasional secara keseluruhan.

Berita Lainnya

Selat Hormuz Kembali Terbuka: Sinyal Positif Bagi Ekonomi RI di Tengah Gencatan Senjata Global

Selat Hormuz Kembali Terbuka: Sinyal Positif Bagi Ekonomi RI di Tengah Gencatan Senjata Global

Mitigasi Jangka Panjang Hingga Tahun 2027

DPR RI mendesak pemerintah dan Bank Indonesia (BI) untuk tidak hanya melakukan langkah reaktif sesaat. Puan menekankan pentingnya strategi antisipasi yang komprehensif, tidak hanya untuk melewati tahun 2024 atau 2025, tetapi juga proyeksi hingga tahun 2027. Ketidakpastian global diperkirakan masih akan berlanjut, sehingga diperlukan fondasi ekonomi yang lebih resilien.

“Situasi global ini menuntut kita untuk bersiaga sejak awal. Jangan sampai pengaruh eksternal ini membuat Indonesia terpuruk. Langkah mitigasi harus dipersiapkan secara matang agar dampaknya tidak meluas dan merusak tatanan ekonomi yang sudah kita bangun dengan susah payah,” tegasnya. Puan menekankan bahwa perlindungan terhadap masyarakat kecil harus menjadi prioritas utama agar mereka tidak menjadi korban utama dari gejolak pasar global.

Berita Lainnya

Laporan ADB 2026: Indonesia Menjadi Titik Terang di Tengah Bayang-Bayang Lesunya Ekonomi Asia

Laporan ADB 2026: Indonesia Menjadi Titik Terang di Tengah Bayang-Bayang Lesunya Ekonomi Asia

Langkah Strategis: Menahan Arus Modal Keluar

Selain menjaga stabilitas harga pangan, DPR juga memberikan dukungan penuh kepada upaya Bank Indonesia dalam melakukan mitigasi terhadap arus modal asing yang keluar (capital outflow). Dalam situasi ketidakpastian, investor cenderung menarik modalnya dari pasar negara berkembang untuk dialihkan ke aset yang dianggap lebih aman (safe haven), yang dalam hal ini semakin memperlemah posisi rupiah.

Intervensi pasar yang terukur, kebijakan suku bunga yang tepat, serta pemberian stimulus bagi sektor-sektor produktif diharapkan dapat menjadi bantalan ekonomi. Puan meminta agar pemerintah tetap fokus pada pengendalian harga kebutuhan pokok agar inflasi tetap berada dalam rentang sasaran, meskipun tekanan eksternal terus menekan rupiah.

Sinergi Menjaga Ketahanan Ekonomi Nasional

Menutup pernyataannya, Puan Maharani mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk bersinergi. Menurutnya, stabilitas nasional hanya bisa dicapai jika ada keselarasan antara kebijakan fiskal pemerintah dan kebijakan moneter Bank Indonesia. Penguatan produksi dalam negeri dan substitusi impor juga menjadi agenda yang kian mendesak untuk mengurangi ketergantungan pada mata uang asing.

“DPR RI mendukung penuh setiap upaya terbaik dalam menjaga stabilitas nasional. Kita harus memastikan bahwa di tengah badai global ini, rakyat kecil tetap terlindungi dan dunia usaha tetap bisa bernapas untuk terus bergerak,” pungkas Puan. Dengan tantangan yang ada, Indonesia kini dituntut untuk menunjukkan ketangguhannya dalam menghadapi volatilitas pasar yang kian dinamis.

Kondisi rupiah yang menyentuh level Rp 17.500 ini memang menjadi peringatan keras bagi semua pihak. Ke depan, perhatian publik akan tertuju pada bagaimana langkah konkret yang akan diambil oleh otoritas moneter dan fiskal untuk meredam gejolak ini, demi memastikan bahwa pemulihan ekonomi pascapandemi tidak terhenti oleh tekanan geopolitik yang terjadi di belahan dunia lain.

Reporter Nasional

Reporter Nasional

Mengulas berita politik dan sosial dari berbagai daerah di Indonesia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *