Kolaborasi Tak Terduga AS dan China: Menahan Ledakan Harga Minyak di Tengah Gejolak Selat Hormuz

Reporter Nasional | LajuBerita
16 Mei 2026, 22:48 WIB
Kolaborasi Tak Terduga AS dan China: Menahan Ledakan Harga Minyak di Tengah Gejolak Selat Hormuz

LajuBerita — Peta geopolitik energi dunia tengah menyaksikan sebuah anomali yang mengejutkan sekaligus melegakan bagi pasar global. Dua kekuatan ekonomi terbesar dunia, Amerika Serikat (AS) dan China, yang biasanya kerap berseberangan dalam berbagai isu strategis, kini sepakat untuk berdiri di satu garis yang sama. Keduanya mengambil peran krusial sebagai penyeimbang utama demi meredam gejolak harga minyak mentah dunia yang terancam melambung liar akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.

Kesepakatan ini muncul sebagai respons darurat terhadap ancaman nyata gangguan rantai pasok energi global. Konflik yang melibatkan Iran dan ancaman penutupan Selat Hormuz telah memicu kekhawatiran akan terjadinya kelangkaan energi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dalam situasi yang penuh ketidakpastian ini, Washington dan Beijing menyadari bahwa stabilitas ekonomi domestik mereka sangat bergantung pada bagaimana mereka mampu menjinakkan volatilitas pasar energi internasional.

Berita Lainnya

Berburu Kesejukan di Transmart Full Day Sale: Borong AC 1 PK Hemat Rp 1,3 Juta!

Berburu Kesejukan di Transmart Full Day Sale: Borong AC 1 PK Hemat Rp 1,3 Juta!

Ancaman Kelumpuhan di Selat Hormuz

Selat Hormuz bukan sekadar jalur pelayaran biasa; ia adalah urat nadi utama bagi distribusi energi dunia. Blokade atau gangguan di jalur sempit ini diperkirakan dapat melenyapkan pasokan sekitar 10 juta barel per hari (bpd) dari pasar global. Angka yang fantastis ini setara dengan hampir 10 persen dari total konsumsi minyak dunia setiap harinya. Jika skenario terburuk ini bertahan lama, dunia akan menghadapi gangguan pasokan energi terbesar dalam catatan sejarah modern, bahkan melampaui krisis minyak pada era 1970-an.

Dampak dari blokade Iran di kawasan Teluk Persia ini tidak hanya bersifat regional, tetapi juga sistemik. Tanpa intervensi yang terukur, ketiadaan 10 juta barel tersebut akan memaksa harga minyak melonjak ke level yang tidak terbayangkan, yang pada gilirannya akan memicu inflasi global dan melumpuhkan sektor transportasi serta industri di berbagai belahan dunia. Inilah yang kemudian mendorong AS sebagai produsen minyak terbesar dan China sebagai importir terbesar untuk turun tangan dalam menjaga ekonomi global.

Berita Lainnya

Catatan Kritis DPR RI Terkait Evaluasi Mudik 2026: Urgensi Buffer Zone dan Penataan Infrastruktur Jalan

Catatan Kritis DPR RI Terkait Evaluasi Mudik 2026: Urgensi Buffer Zone dan Penataan Infrastruktur Jalan

Strategi Ganda: AS Menggenjot Ekspor, China Mengerem Impor

LajuBerita memantau bahwa strategi yang diterapkan kedua negara ini merupakan sebuah kombinasi yang sangat efektif. Amerika Serikat, memanfaatkan posisinya sebagai produsen minyak raksasa, secara agresif meningkatkan volume ekspor minyaknya hingga 3,5 juta barel per hari di tengah berkecamuknya tensi dengan Iran. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa pasar global tetap memiliki alternatif pasokan di tengah macetnya keran minyak dari negara-negara Teluk.

Di sisi lain, China melakukan langkah yang tak kalah krusial. Sebagai pembeli minyak terbesar di dunia, Beijing memutuskan untuk memangkas impor minyak mentahnya hingga 3,6 juta barel per hari. Dengan mengurangi permintaan secara signifikan, China secara tidak langsung memberikan ruang bernapas bagi pasokan yang ada untuk dialokasikan ke negara-negara lain yang lebih membutuhkan. Gabungan dari aksi kedua negara ini diklaim mampu menutup hampir 70 persen dari total kekurangan ekspor minyak yang hilang akibat konflik di Teluk Persia.

Berita Lainnya

Beban Berat Anggaran Malaysia: Gelontorkan Rp 30 Triliun Demi Jaga Harga BBM Tetap Stabil

Beban Berat Anggaran Malaysia: Gelontorkan Rp 30 Triliun Demi Jaga Harga BBM Tetap Stabil

Keberhasilan manuver ini juga didukung oleh sekutu-sekutu ekonomi lainnya. Negara-negara industri maju seperti Jepang dan Korea Selatan, bersama dengan kekuatan ekonomi baru India, turut serta menekan angka impor mereka dengan total akumulasi mencapai 3,6 juta barel per hari. Sinergi kolektif ini menjadi benteng utama yang mencegah energi dunia jatuh ke dalam jurang krisis yang lebih dalam.

Analisis Pakar: Mengapa Brent Belum Menyentuh US$ 120?

Keberhasilan strategi AS-China ini tercermin dari pergerakan harga minyak Brent di pasar internasional. Meskipun sentimen pasar sangat negatif, harga minyak mentah Brent relatif masih terkendali dan belum menembus angka psikologis US$ 120 per barel. Michael Hsueh, analis dari Deutsche Bank, menyebutkan bahwa peran AS dan China adalah bentuk penyesuaian pasar yang paling penting dalam sejarah dekade ini. Menurutnya, tanpa langkah ekstrem dari kedua negara ini, harga minyak mungkin sudah berada di luar kendali.

Berita Lainnya

Langkah Besar Transisi Energi: Empat Kota Besar Siap Jadi Lokasi Uji Coba CNG 3 Kg

Langkah Besar Transisi Energi: Empat Kota Besar Siap Jadi Lokasi Uji Coba CNG 3 Kg

Senada dengan hal tersebut, Martijn Rats, ahli strategi komoditas dari Morgan Stanley, memberikan apresiasi khusus terhadap kebijakan Beijing. Ia menilai bahwa keputusan China untuk mengerem impor adalah faktor paling signifikan yang menjelaskan stabilitas harga saat ini. “Pengurangan impor oleh China adalah langkah yang luar biasa. Ini adalah komponen terpenting yang menjaga agar harga tidak melambung lebih tinggi lagi,” ungkap Rats dalam sebuah laporan yang dikutip oleh media internasional.

Cadangan Strategis: Benteng Terakhir Ketahanan Energi

Salah satu alasan mengapa China mampu memangkas impor dalam jumlah besar tanpa mengganggu aktivitas industri domestiknya adalah berkat tumpukan cadangan minyaknya yang luar biasa. Berdasarkan data Badan Informasi Energi AS, hingga akhir tahun 2025, China memegang rekor cadangan minyak strategis terbesar di dunia, yakni mencapai 1,4 miliar barel. Jumlah ini diprediksi cukup untuk menopang kebutuhan energi Negeri Tirai Bambu tersebut hingga berbulan-bulan ke depan, bahkan hingga akhir tahun jika kondisi darurat berlanjut.

Namun, kondisi berbeda dialami oleh Amerika Serikat. Meskipun sukses menstabilkan pasar melalui lonjakan ekspor, persediaan minyak dalam negeri AS kini mulai menunjukkan tanda-tanda tekanan. Washington telah menyetujui penggunaan 172 juta barel dari cadangan nasionalnya sejak Maret lalu demi meredam guncangan harga. Masalah utamanya adalah peningkatan ekspor AS saat ini lebih banyak mengandalkan pengurasan stok yang ada daripada peningkatan produksi riil dari sumur-sumur minyak baru.

Produksi minyak AS saat ini diperkirakan berada di angka 413 juta barel, namun kemampuan untuk mempertahankan tingkat ekspor yang tinggi di masa depan mulai diragukan. Rats memperingatkan bahwa tekanan terhadap cadangan minyak AS kian membesar, dan tantangan sebenarnya adalah berapa lama mereka bisa bertahan sebelum cadangan tersebut mencapai titik kritis.

Masa Depan Pasar Minyak dan Diplomasi Energi

Situasi ini menegaskan betapa rapuhnya stabilitas kebijakan energi internasional jika hanya bergantung pada satu kawasan. Kolaborasi antara AS dan China dalam krisis ini menjadi preseden penting bahwa kepentingan ekonomi terkadang mampu melampaui rivalitas politik. Namun, pertanyaan besar yang masih menggantung adalah sampai kapan kedua negara ini mampu mempertahankan ritme ekspor tinggi dan impor rendah tersebut.

Ke depannya, kunci utama dari normalisasi harga minyak tetap berada pada dibukanya kembali Selat Hormuz secara penuh dan meredanya tensi di Timur Tengah. Selama jalur tersebut masih terancam, pasar akan terus berada dalam kondisi waspada. LajuBerita akan terus memantau perkembangan ini, mengingat dinamika harga minyak akan berdampak langsung pada kebijakan subsidi BBM dan biaya logistik di berbagai negara, termasuk Indonesia. Dunia kini hanya bisa berharap bahwa diplomasi energi ini terus berjalan efektif sebelum cadangan strategis benar-benar terkuras habis.

Reporter Nasional

Reporter Nasional

Mengulas berita politik dan sosial dari berbagai daerah di Indonesia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *