Dolar Mengamuk Tembus Rp 17.600: Jeritan Pedagang Pasar Senen di Tengah Cekikan Harga Impor

Reporter Nasional | LajuBerita
18 Mei 2026, 14:47 WIB
Dolar Mengamuk Tembus Rp 17.600: Jeritan Pedagang Pasar Senen di Tengah Cekikan Harga Impor

LajuBerita — Gejolak ekonomi global yang memicu penguatan perkasa dolar Amerika Serikat (AS) kini bukan lagi sekadar angka di layar monitor para pialang saham. Dampak nyatanya telah merambat hingga ke lorong-lorong sempit Pasar Senen, Jakarta Pusat. Dengan nilai tukar yang telah menembus level psikologis baru di angka Rp 17.600 per dolar AS, stabilitas ekonomi rumah tangga kini berada di ujung tanduk. Para pedagang komoditas pangan mulai menyuarakan kegelisahan mereka saat harga barang-barang kebutuhan pokok yang bergantung pada jalur impor mulai merangkak naik tanpa ampun.

Badai di Lapak Daging: Sapi Impor yang Terasa ‘Lokal’

Di sudut pasar yang biasanya riuh dengan transaksi, Fahmi, seorang pedagang daging sapi veteran, tampak termenung menatap deretan daging yang digantung di lapaknya. Baginya, kenaikan nilai tukar mata uang Paman Sam adalah lonceng peringatan bagi kelangsungan usahanya. Meski konsumen sering menyebutnya sebagai daging lokal, nyatanya sebagian besar sapi yang dipotong di rumah pemotongan hewan berasal dari Australia.

Berita Lainnya

Terobosan Baru Kemandirian Energi: CNG Siap Gantikan LPG Demi Tekan Impor Gas Nasional

Terobosan Baru Kemandirian Energi: CNG Siap Gantikan LPG Demi Tekan Impor Gas Nasional

“Kita memang membesarkannya di sini selama satu atau dua bulan, tapi bibit sapinya beli pakai dolar dari Australia. Jadi, kalau nilai tukar rupiah melemah, harga beli dari sana otomatis melonjak tajam,” ungkap Fahmi saat berbincang dengan tim LajuBerita. Ia menjelaskan bahwa ketergantungan pada pasokan luar negeri membuat harga daging di tingkat hulu menjadi sangat sensitif terhadap fluktuasi mata uang.

Saat ini, harga daging sapi di lapak Fahmi telah menyentuh angka Rp 150.000 per kilogram. Padahal, dalam kondisi normal, harga biasanya stabil di kisaran Rp 130.000. Kenaikan sebesar Rp 20.000 per kilogram ini dirasa sangat memberatkan, baik bagi pedagang maupun pembeli. Tak hanya daging segar, varian daging beku impor pun ikut terkerek naik dari Rp 110.000 menjadi kisaran Rp 120.000 hingga Rp 130.000 per kilogram, tergantung pada jenis dan kualitas potongannya.

Berita Lainnya

Kemenperin Tangkis Isu Deindustrialisasi: Bukti Pertumbuhan Manufaktur RI Masih Berada di Jalur Hijau

Kemenperin Tangkis Isu Deindustrialisasi: Bukti Pertumbuhan Manufaktur RI Masih Berada di Jalur Hijau

Dilema Tukang Bakso dan Menurunnya Daya Beli

Dampak domino dari lonjakan harga daging sapi ini mulai memukul sektor usaha mikro lainnya. Para pelanggan setia Fahmi, yang mayoritas adalah pedagang bakso dan soto, kini mulai mengurangi volume pembelian mereka. Jika biasanya mereka mampu menyerap berkilo-kilo daging setiap harinya, kini mereka terpaksa memangkas porsi demi menjaga margin keuntungan agar tidak tekor.

“Kasihan langganan saya, seperti tukang bakso. Mereka mengeluh karena tidak mungkin menaikkan harga semangkuk bakso secara mendadak, sementara bahan bakunya naik gila-gilaan. Akhirnya mereka beli lebih sedikit, dan omzet saya pun ikut turun drastis,” keluh Fahmi dengan nada getir. Kekhawatiran Fahmi sangat beralasan; jika dolar terus ‘ngamuk’, ia takut pasar akan semakin sepi karena daya beli masyarakat yang kian tergerus oleh inflasi tersembunyi ini.

Berita Lainnya

Skandal Under-Invoicing Ekspor CPO: Mendag Budi Santoso Buka Suara Terkait Dugaan Manipulasi 10 Perusahaan Besar

Skandal Under-Invoicing Ekspor CPO: Mendag Budi Santoso Buka Suara Terkait Dugaan Manipulasi 10 Perusahaan Besar

Kedelai Impor dan Nasib Tahu-Tempe di Meja Makan

Tak jauh dari lapak daging, Davi, seorang pedagang tahu dan bawang, juga merasakan tekanan yang sama. Komoditas tahu yang selama ini dikenal sebagai sumber protein murah bagi rakyat kecil kini mulai kehilangan predikat ‘murah’-nya. Penyebabnya tak lain adalah bahan baku utamanya, yakni kedelai, yang hampir seluruhnya didatangkan melalui jalur impor.

Davi menceritakan bahwa pihak pabrik sudah tidak sanggup lagi menahan beban biaya produksi yang membengkak akibat pelemahan rupiah. Seminggu terakhir, harga tahu di tingkat produsen sudah merangkak naik sekitar Rp 100 hingga Rp 200 per potong. Meski terlihat kecil, bagi pedagang kecil dan konsumen kelas bawah, nominal tersebut sangat berarti.

Berita Lainnya

Mengejar Asa di Pesisir Selatan: Progres Pembangunan Sekolah Rakyat Cilacap oleh WIKA Tembus 32 Persen

Mengejar Asa di Pesisir Selatan: Progres Pembangunan Sekolah Rakyat Cilacap oleh WIKA Tembus 32 Persen

“Sekarang saya jual potongan sedang Rp 4.000 dan yang besar Rp 5.000. Sebenarnya harga dari pabrik sudah naik, tapi saya masih mencoba menahan harga di tingkat konsumen. Artinya, keuntungan saya yang dipotong. Saya lebih baik untung sedikit daripada tidak ada yang beli sama sekali,” ujar Davi kepada LajuBerita. Ia mengakui bahwa strategi ini tidak akan bertahan lama jika harga kedelai impor terus melambung tinggi.

Bawang Putih: Ancaman dari Negeri Tirai Bambu

Selain tahu, Davi juga menaruh perhatian besar pada stok bawang putihnya. Berbeda dengan bawang merah yang banyak dipasok dari petani lokal di Brebes atau daerah lainnya, bawang putih di pasar Indonesia didominasi oleh produk impor, terutama dari China. Dengan kondisi rupiah yang loyo, ia memprediksi harga bawang putih akan segera menyusul tren kenaikan harga komoditas lainnya.

Ketergantungan struktural pada barang impor memang menjadi titik lemah ketahanan pangan nasional saat dolar bergejolak. Fenomena ini menciptakan rasa waswas yang kolektif di kalangan pedagang pasar. Mereka berada di garis depan yang berhadapan langsung dengan kemarahan konsumen, padahal mereka sendiri hanyalah korban dari kebijakan moneter global yang tak menentu.

Menganalisis Akar Masalah: Mengapa Rupiah Melemah?

Secara jurnalisme profesional, penting untuk memahami mengapa fenomena ini terjadi. Pelemahan rupiah hingga level Rp 17.600 dipicu oleh berbagai faktor eksternal, mulai dari kebijakan suku bunga tinggi Federal Reserve (The Fed) di Amerika Serikat hingga ketegangan geopolitik di berbagai belahan dunia yang membuat investor cenderung menarik modal mereka dari negara berkembang (emerging markets) ke aset yang dianggap lebih aman (safe haven) seperti dolar AS.

Kondisi ini diperparah dengan tingginya permintaan korporasi domestik terhadap dolar untuk membayar utang luar negeri atau keperluan impor bahan baku industri. Tanpa intervensi yang kuat dan strategi diversifikasi pangan yang nyata, masyarakat kecil di pasar-pasar tradisional seperti Pasar Senen akan terus menjadi pihak yang paling terdampak oleh gejolak ekonomi global ini.

Harapan di Tengah Ketidakpastian

Para pedagang kini hanya bisa berharap agar pemerintah dan Bank Indonesia segera mengambil langkah taktis untuk menstabilkan nilai tukar. Stabilisasi harga pangan menjadi harga mati agar roda ekonomi di tingkat bawah tetap bisa berputar. Tanpa itu, kekhawatiran Davi akan pasar yang sepi bukan lagi sekadar ketakutan, melainkan kenyataan pahit yang harus ditelan setiap harinya.

“Harapan kami simpel, tolong stabilkan harga. Jangan sampai kami jualan tapi malah rugi karena pembeli tidak ada yang sanggup bayar,” tutup Davi mengakhiri pembicaraan. Di tengah amukan dolar, jeritan para pedagang ini menjadi pengingat bahwa di balik angka-angka statistik ekonomi, ada perut-perut yang harus tetap kenyang dan dapur yang harus tetap mengepul.

Reporter Nasional

Reporter Nasional

Mengulas berita politik dan sosial dari berbagai daerah di Indonesia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *