Strategi Jitu Membangun Bisnis dari Nol: 5 Panduan Utama dari Tokoh Perbankan untuk UMKM Naik Kelas

Reporter Nasional | LajuBerita
23 Mei 2026, 22:47 WIB
Strategi Jitu Membangun Bisnis dari Nol: 5 Panduan Utama dari Tokoh Perbankan untuk UMKM Naik Kelas

LajuBerita — Di tengah dinamika ekonomi global yang penuh ketidakpastian, semangat kewirausahaan di Indonesia justru menunjukkan tren yang semakin positif. Namun, membangun sebuah usaha yang berkelanjutan bukanlah perkara mudah, melainkan sebuah perjalanan panjang yang membutuhkan strategi matang dan mentalitas yang kuat. Memahami tantangan tersebut, Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Hery Gunardi, membagikan wawasan berharganya mengenai fondasi utama dalam merintis sebuah bisnis pemula agar mampu bertahan di tengah persaingan pasar yang ketat.

Dalam sebuah sesi inspiratif bertajuk Education Class pada ajang Jogja Financial Festival yang digelar di Jogja Expo Center, Daerah Istimewa Yogyakarta, Hery memaparkan lima pilar penting yang harus menjadi perhatian bagi setiap calon pengusaha. Menurutnya, kegagalan banyak usaha rintisan seringkali bukan disebabkan oleh kurangnya modal semata, melainkan karena fundamental manajemen yang kurang kokoh sejak tahap awal berdiri.

Berita Lainnya

Menanti Keputusan Purbaya: Teka-teki Gaji Manajer Kopdes Merah Putih dan Skema Anggaran APBN

Menanti Keputusan Purbaya: Teka-teki Gaji Manajer Kopdes Merah Putih dan Skema Anggaran APBN

1. Memilih Sektor dengan Hambatan Masuk yang Rendah

Langkah pertama yang disarankan oleh Hery Gunardi adalah ketepatan dalam memilih industri. Bagi mereka yang baru ingin terjun ke dunia usaha, ia menyarankan agar masuk ke sektor yang memiliki entry barrier atau hambatan masuk yang tidak terlalu tinggi. Hal ini bertujuan agar operasional bisnis bisa berjalan lebih lincah dan tidak terbebani oleh regulasi atau modal awal yang terlalu masif.

“Saya melihat dari kacamata profesional. Jika Anda benar-benar ingin memulai, carilah industri yang akses masuknya relatif mudah,” ungkap Hery. Dengan memilih sektor yang aksesibel, pelaku usaha dapat lebih fokus pada pengembangan produk dan pelayanan pelanggan tanpa harus menghabiskan energi pada birokrasi atau infrastruktur yang rumit di masa awal pertumbuhan. Fokus pada strategi bisnis yang sederhana namun efektif jauh lebih penting daripada memaksakan diri masuk ke pasar yang sudah sangat jenuh dan bermodal besar.

Berita Lainnya

Catatan Kritis DPR RI Terkait Evaluasi Mudik 2026: Urgensi Buffer Zone dan Penataan Infrastruktur Jalan

Catatan Kritis DPR RI Terkait Evaluasi Mudik 2026: Urgensi Buffer Zone dan Penataan Infrastruktur Jalan

2. Membedah Kondisi Pasar dan Analisis Kompetitor

Seorang pengusaha tidak boleh berjalan dengan mata tertutup. Memahami lanskap pasar adalah syarat mutlak. Hery menekankan bahwa sebelum meluncurkan produk, calon pengusaha wajib melakukan riset mendalam terhadap para pemain yang sudah ada. Mengetahui siapa pemegang pangsa pasar terbesar adalah kunci untuk menentukan posisi bisnis kita sendiri.

“Siapa pemain utamanya? Siapa pesaing langsungnya? Kita harus belajar mengapa mereka bisa besar dan apa yang membuat mereka lebih maju dibandingkan yang lain,” jelasnya. Dengan mempelajari keberhasilan dan kegagalan kompetitor, pelaku UMKM Indonesia dapat mengadopsi praktik terbaik dan menghindari kesalahan yang sama. Proses belajar dari yang terbaik ini akan mempersingkat kurva pembelajaran (learning curve) bagi pemilik bisnis baru.

Berita Lainnya

Hujan Badai di Tangerang: InJourney Airports Beberkan Pemicu Kerusakan Atap Terminal 3 Soetta

Hujan Badai di Tangerang: InJourney Airports Beberkan Pemicu Kerusakan Atap Terminal 3 Soetta

3. Disiplin Keuangan: Pisahkan Kantong Pribadi dan Perusahaan

Salah satu penyakit kronis yang sering menghinggapi pelaku usaha mikro dan kecil adalah tercampurnya catatan keuangan pribadi dengan keuangan usaha. Hery menyoroti pentingnya manajemen administrasi yang rapi sejak hari pertama. Tanpa pemisahan yang jelas, pemilik usaha tidak akan pernah tahu apakah bisnisnya benar-benar menghasilkan keuntungan atau justru sedang menggerogoti tabungan pribadi.

“Seringkali catatan belanja individu dan belanja usaha itu sama. Akibatnya, pelaku usaha tidak tahu mana yang untung dan mana yang rugi karena uangnya dipakai untuk kebutuhan sehari-hari,” tuturnya. Untuk itu, Hery mendorong agar arus uang masuk dan keluar harus terdokumentasi dengan baik. Profesionalisme dalam manajemen keuangan adalah fondasi utama jika ingin bisnis tersebut berkembang menjadi skala yang lebih besar atau mendapatkan akses pembiayaan dari perbankan di masa depan.

Berita Lainnya

Sinyal Kenaikan HET Minyakita: Langkah Strategis Pemerintah di Tengah Fluktuasi Komoditas Global

Sinyal Kenaikan HET Minyakita: Langkah Strategis Pemerintah di Tengah Fluktuasi Komoditas Global

4. Menjaga Arus Kas sebagai ‘Oksigen’ Bisnis

Banyak bisnis yang secara pembukuan terlihat merugi, namun tetap bertahan. Sebaliknya, banyak bisnis yang terlihat untung besar di atas kertas, justru bangkrut dalam waktu singkat. Penyebabnya satu: kegagalan mengelola arus kas atau cashflow. Hery mengingatkan bahwa enam bulan pertama adalah fase krusial bagi keberlangsungan hidup sebuah usaha.

Ia mencontohkan skenario di mana sebuah bisnis memiliki potensi penjualan yang bagus, namun sistem pembayarannya macet. “Potensi cashflow-nya bagus, tapi jika pelanggan menunggak pembayaran terlalu lama, sementara Anda harus membayar operasional, maka bisnis Anda akan ‘kehabisan napas’ karena uang tunai tidak tersedia,” papar Hery. Pengelolaan arus kas bisnis yang sehat memastikan perusahaan memiliki daya tahan untuk menghadapi situasi yang tidak terduga.

5. Akselerasi Melalui Transformasi Teknologi Digital

Di era industri 4.0, teknologi bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keharusan. Hery Gunardi menutup tipsnya dengan menekankan pentingnya adopsi teknologi untuk menekan biaya operasional (variable cost) dan memperluas jangkauan pasar. Penggunaan platform digital memungkinkan pelaku usaha menjangkau konsumen yang jauh lebih luas dengan biaya yang relatif murah dibandingkan metode pemasaran konvensional.

“Manfaatkan internet, mulai berjualan di platform seperti TikTok dan Instagram, serta terus lakukan inovasi dari sisi digital,” pungkasnya. Dengan memanfaatkan pemasaran digital, sebuah brand lokal kini memiliki kesempatan yang sama untuk bersaing di panggung nasional bahkan internasional. Inovasi teknologi tidak hanya soal gaya hidup, tapi soal efisiensi dan daya saing yang akan menentukan siapa yang akan bertahan dalam jangka panjang.

Pesan dari Bos BRI ini menjadi pengingat bagi para calon teknopreneur dan pengusaha muda bahwa kombinasi antara keberanian memulai, disiplin keuangan, riset pasar, dan adaptasi teknologi adalah resep rahasia di balik kesuksesan bisnis masa depan. Dengan mengikuti panduan ini, diharapkan angka keberhasilan UMKM di Indonesia akan terus meningkat dan memberikan kontribusi yang lebih besar bagi perekonomian nasional.

Reporter Nasional

Reporter Nasional

Mengulas berita politik dan sosial dari berbagai daerah di Indonesia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *